Bos Pengusaha Hotel RI Buka Suara Soal Dampak Erupsi Anak Krakatau

Sedang Trending 58 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang pembatalan perjalanan akibat kondisi Gunung Anak Krakatau mulai menjadi perhatian pelaku industri hotel. Gangguan perjalanan, terutama penerbangan, dinilai bisa langsung memengaruhi tingkat keterisian bilik di sejumlah wilayah nan berjuntai pada kehadiran wisatawan.

Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPP PHRI) Maulana Yusran mengatakan akibat terhadap okupansi hotel tidak bisa dihindari ketika akses transportasi menuju suatu wilayah terganggu. Kondisi tersebut terutama terasa di wilayah nan banyak mengandalkan visitor dari luar daerah.

"Ya tentu kondisinya bakal pasti bakal berakibat ke okupansi. Namun sekali lagi jika kita bicara Lampung, umumnya flight-nya banyak ke Jakarta. Jadi mungkin tetap banyak, tetap bisa juga untuk menggunakan jalur darat. Itu salah satu strateginya," kata Maulana kepada CNBC Indonesia, Rabu (9/9/26).

Kondisi pembatalan perjalanan juga tidak berakhir pada tiket transportasi. Sejumlah visitor nan sudah mempunyai reservasi hotel dapat mengubah rencana perjalanan mereka lantaran akses menuju destinasi belum sepenuhnya dapat dipastikan.

Suasana Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, setelah penghentian operasionalisasi penerbangan diperpanjang hingga pukul 18.00 WIB, Senin (7/9/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Suasana Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, setelah penghentian operasionalisasi penerbangan diperpanjang hingga pukul 18.00 WIB, Senin (7/9/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Suasana Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, setelah penghentian operasionalisasi penerbangan diperpanjang hingga pukul 18.00 WIB, Senin (7/9/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

"Kalau kita bicara akibat terhadap hotelnya tentu pasti ada. Karena bagaimanapun nan namanya penerbangan itu merupakan salah satu moda transportasi nan mendatangkan tamu," ujarnya.

Besarnya akibat belum dapat dihitung secara pasti lantaran situasi di lapangan tetap berubah. Data dari setiap wilayah juga menjadi aspek krusial untuk memandang seberapa besar tekanan nan dialami industri perhotelan.

PHRI tetap memantau perkembangan di sejumlah wilayah, termasuk Lampung, Banten dan Jakarta. Pergerakan visitor bakal sangat berjuntai pada perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau serta akses transportasi nan tersedia.

"Traveler itu ada nan mungkin cemas sehingga mereka meng-cancel perjalanan mereka alias apalagi memperpendek perjalanan mereka. Itu juga bisa terjadi di situ. Dan situasi itu tentu pasti bakal berbeda-beda di tiap daerah," jelas Maulana.

Menurut dia, pelaku upaya hotel perlu memandang kondisi tersebut secara elastis lantaran pembatalan perjalanan tidak selalu mencerminkan turunnya minat visitor terhadap sebuah daerah. Faktor keamanan dan kepastian akses menjadi pertimbangan utama ketika visitor memutuskan melanjutkan alias membatalkan perjalanan.

"Karena bagaimanapun nan namanya penerbangan itu adalah merupakan salah satu moda transportasi nan mendatangkan tamunya. Apalagi daerah-daerah seperti Jakarta, targetnya bukan hanya dari lokal alias domestik tapi juga mancanegara. Frekuensi penerbangan nan cukup banyak, baik internasional maupun domestic flight, pasti bakal ada dampak," pungkas Maulana.

(fys/wur) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News