Boneka Berbulu Itu Bukan Teman: Cara Big Tech Meredam Ketakutan Anda pada AI

Sedang Trending 4 hari yang lalu

loading...

Jolly, maskot pemasok AI Muse buatan Meta, tampil sebagai boneka berbulu nan imut dan mudah dipeluk. Imut di luar, tetapi urusan nan dititipkan padanya butuh akses. Foto: Ist

JAKARTA - Gemuk. Pipi merah. Ompong. Namanya Jolly. Boneka berbulu, mata besar, senyum polos. Anda bisa menitipkan banyak urusan padanya: memesan tiket untuk liburan, menyisir keuangan.

Jolly adalah maskot Muse, asisten AI buatan Meta. Jenisnya disebut agen: AI nan tidak berakhir pada menjawab pertanyaan, tetapi ikut mengerjakan tugas. Ia bisa berbaju. Ia bisa mengenakan headphone mungil jika sedang ‘’bekerja’’.

Dulu orang rela menempuh jalan berliku demi mendapatkan Labubu. Maka bakal mudah orang terpikat pada Jolly.

Jolly punya kawan. OpenAI memakai titik-titik bulat tanpa mulut. Genspark punya lobster berbulu. Pengguna Grok mengangkat alien mini kehijauan berjulukan Groklet. Semuanya lucu. Semuanya empuk. Semuanya muncul ketika orang mulai resah AI bakal menghabisi manusia.

Dari robot pembunuh ke boneka nan bisa dipeluk. Cepat sekali.

Tapi, kelucuan itu bukan hiasan. Ia strategi. Joshua Paul Dale, guru besar di Chuo University, Tokyo, sekaligus pendiri bagian kajian Cute Studies, menjelaskan mekanismenya.

Melihat nan imut merangsang pusat kesenangan di otak, katanya, apalagi sebelum kita sempat berpikir. Kita pun condong bersikap ramah pada makhluk itu.

Sebelum sempat berpikir. Garis bawahi frasa itu.

Thiago Serra, guru besar analitika upaya di University of Iowa, mengingat Tesla. Dulu orang merasa kudu menelan ‘’vitamin’’ ramah lingkungan dan merogoh kocek demi mobil listrik.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews
↑