BMKG Tegaskan Modifikasi Cuaca untuk Mitigasi Bencana, Bukan Pemicu Cuaca Tak Stabil

Sedang Trending 5 bulan yang lalu

BMKG Tegaskan Modifikasi Cuaca untuk Mitigasi Bencana, Bukan Pemicu Cuaca Tak Stabil

BMKG Tegaskan Modifikasi Cuaca untuk Mitigasi Bencana, Bukan Pemicu Cuaca Tak Stabil (Ilustrasi/Dok BNPB)

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan, operasi modifikasi cuaca (OMC) nan dilakukan di Indonesia merupakan upaya mitigasi musibah nan terukur dan berbasis sains. Langkah ini diambil sebagai respons paralel terhadap penurunan daya dukung lingkungan dan meningkatnya ancaman perubahan iklim.

Pernyataan itu sekaligus meluruskan narasi di media sosial nan menyebut, OMC mempunyai akibat dan seperti peledak waktu jika ferus dikakukan.  Dalam narasi nan beredar, OMC disebut mempunyai akibat musibah lain seperti membikin kondisi cuaca tidak stabil serta membentuk cold pool (kolam dingin), memindahkan alias menumpuk air di wilayah tertentu sehingga membikin banjir besar, dan memberikan rasa kondusif nan palsu. 

"Dalam konteks tersebut, BMKG menegaskan cold poll alias kolam dingin merupakan kejadian meteorologi nan sepenuhnya alami. Fenomena ini terjadi saat air hujan menguap di bawah awan badai, mendinginkan udara, dan menciptakan massa udara padat nan jatuh ke permukaan," demikian pernyataan BMKB, dikutip pada Kamis (29/1/2026). 

Sedianya, setiap kali terjadi hujan secara alami cold pool pasti terbentuk secara alami. Sehingga mengaitkan kejadian ini sebagai pengaruh samping nan rawan dari OMC adalah kekeliruan sains. Pasalny, OMC dengan teknik penyemaian awan (cold seeding) tidak menumbuhkan awan baru dan hanya bekerja pada awan nan sudah ada di alam. 

"BMKG menegaskan, penerapan OMC bermaksud murni untuk mitigasi musibah dan perlindungan masyarakat dengan menambah alias mengurangi curah hujan--*bukan pemicu cuaca tidak stabil," terang BMKG.

Merespons narasi " OMC memindahkan hujan ke wilayah tetangga dan berpotensi membikin banjir", BMKG menjelaskan, dua metode utama nan digunakan untuk melindungi wilayah strategis. 

Pertama, Jumping Process Method di mana tim OMC mendeteksi suplai awan dari laut (Laut Jawa/Samudra Hindia) menggunakan radar dan menyemainya sebelum mencapai daratan agar hujan jatuh di perairan.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com