Laundry Innovation Summit 2026 di ICE BSD City pada 13–14 November 2026 bakal membahas perkembangan industri serta teknologi laundry di Tanah Air dan prospek upaya pada 2027.(Apique)
BISNIS laundry tak lagi sekadar urusan mencuci, mengeringkan, dan menyetrika pakaian. Di tengah kenaikan nilai bahan baku, persaingan tarif, dan sulitnya mencari pekerja, pengusaha laundry dituntut mencari langkah baru agar upaya tetap bertahan. Salah satu peluangnya adalah memanfaatkan kepintaran buatan (AI) untuk memahami perilaku pengguna dan meningkatkan efisiensi.
Founder Apique Group sekaligus penggagas Laundry Innovation Summit (LIS), Apik Primadya, mengatakan pelaku upaya menghadapi tantangan dari beragam sisi. Persaingan nilai di media sosial, misalnya, membikin pengguna mudah menemukan jasa laundry dengan tarif murah. Namun, nilai murah tidak selalu menjamin kualitas mesin, hasil cucian, maupun pelayanan.
Persoalan tenaga kerja juga menjadi perhatian. Menurut Apik, meski banyak pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), jumlah pelamar di industri laundry belum bertambah signifikan.
Ia apalagi menerima laporan dari mitra organisasi mengenai pekerja laundry nan beranjak ke dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Fasilitas makan, selain gaji, disebut menjadi salah satu pertimbangan pekerja. Namun, info tersebut, kata dia, tetap perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada pelaku upaya di daerah.
Di sisi lain, biaya operasional terus meningkat. Sejumlah komponen deterjen dan bahan pewangi tetap berjuntai pada impor. Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya pembelian mesin laundry dari luar negeri.
“Bagaimana menyiasati nilai bahan baku nan sudah mulai naik semua, tapi nilai laundry-nya kayaknya tidak naik-naik,” kata Apik dalam konvensi pers Laundry Innovation Summit 2026 di Jakarta, Kamis (15/10).
Kenaikan tarif bukan perkara mudah, terutama bagi laundry kiloan nan bersaing ketat. Jika nilai tidak berubah, margin upaya bisa tertekan. Namun, menurunkan kualitas cucian alias pelayanan berisiko membikin pengguna beralih.
Belum lagi persoalan izin penggunaan air tanah dan pengelolaan limbah nan berbeda di setiap daerah. “Kami sebagai pengusaha laundry butuh kepastian hukum,” ujar Apik.
AI, Memahami Kebiasaan Pelanggan
Di tengah beragam tantangan tersebut, teknologi kepintaran buatan (AI) menawarkan kesempatan nan lebih luas daripada sekadar membikin poster promosi alias konten media sosial. Kreator konten AI sekaligus AI Blueprint Integrator, Anjas Maradita, mengatakan teknologi ini dapat membantu menjalankan sejumlah pekerjaan operasional secara otomatis.
Salah satunya melalui Agentic AI, sistem nan dapat menjalankan tugas tertentu berasas petunjuk dan batas nan ditetapkan. Dalam upaya laundry, kata Anjas, teknologi ini bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan pelanggan, mengirim pemberitahuan, hingga menghubungi kembali pengguna nan sudah lama tidak menggunakan layanan.
Data cuaca juga berpotensi dimanfaatkan untuk menyusun strategi komunikasi. Ketika hujan diperkirakan turun, misalnya, sistem dapat mengirimkan info jasa kepada pengguna nan memerlukan support mengurus cucian.
“AI itu adalah teknologi nan langkah belajarnya bisa kita tanya ke AI sendiri. Jadi, tidak ada orang nan tidak bisa menggunakan AI,” kata Anjas.
Meski begitu, penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan keahlian usaha. Laundry kecil tidak kudu langsung berinvestasi pada robot penyetrika nan memerlukan biaya besar. Otomatisasi jasa pengguna dan pemasaran bisa menjadi langkah awal nan lebih realistis.
Laundry Innovation Summit 2026 akan berlangsung di ICE BSD City pada 13–14 November 2026. Mengusung tema Beyond The Laundry Business: Shaping a Connected Laundry Ecosystem, forum ini akan membahas perkembangan industri laundry dan prospek bisnis pada 2027, termasuk tren layanan mandiri (self-service) dan layanan konvensional (full-service). (Wan/B-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·