Bhayangkara U-20 pastikan mengusulkan banding perihal hukuman nan dijatuhkan Komdis PSSI kepada mereka buntut kericuhan pada laga melawan Dewa United di EPA Super League lalu. Mereka keberatan dengan balasan nan dijatuhkan, menilai keputusan hukuman itu tidak berasas kebenaran di lapangan.
Lima pemain dan satu staf pembimbing Bhayangkara U-20 disanksi keras Komdis PSSI usai diduga melakukan tindak kekerasan pada kejadian kericuhan saat melawan Dewa United di EPA Super League. Terparah ialah Fadly Alberto, dia disanksi larangan bermain hingga tiga tahun.
Manajer Bhayangkara U-20, Yongky Pandu Pamungkas, pastikan pihaknya ajukan banding mengenai hukuman nan dijatuhkan. Bhayangkara merasa keberatan, karena mereka menilai keputusan hukuman diambil dari rekaman nan beredar di media sosial, bukan kebenaran nan terjadi saat di lapangan.
"Dari keterangan Panpel saja mereka bilang keributan terjadi setelah pertandingan. Padahal, keributan terjadi di tengah pertandingan, itu saja sudah salah. Lalu, untuk pemain saya nan kena pukul disanksi dua tahun [larangan bermain], Alberto tiga tahun, nan [pemain] lainnya dua tahun, dan asisten pembimbing empat pertandingan dan juga denda uang," kata Yongky kepada kumparan, Senin (1/5).
"Lalu, kemarin ada tambahan lagi untuk pemain kita atas nama Mufdi kena setahun. Kok ini jadi tambah banyak gitu. nan didasarkan itu kayaknya rekaman dan foto nan beredar di media sosial. Jadi, sesuai kebenaran nan di lapangan gak terlalu diperhitungkan," tambahnya.
Bhayangkara berambisi Komdis PSSI bisa lebih bijak dalam menjatuhkan sanksi. Mempertimbangkan kebenaran dari lapangan bukan rekaman nan viral di media sosial.
"Mungkin dari Komisi Disiplin [PSSI] bisa lebih bijak lagi dalam mengambil keputusan sesuai kebenaran nan ada di lapangan dan sesuai apa nan disampaikan kesaksian saat sidang. Jadi beberapa keputusan sekarang sedang kita banding," tutupnya.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·