Jakarta, CNBC Indonesia - Arus visitor di pusat perbelanjaan di Jakarta tetap ramai pada kuartal III-2026. Namun, ramainya visitor belum tentu sejalan dengan peningkatan transaksi.
Hal ini memunculkan kembali pertanyaan mengenai kejadian Rojali alias rombongan jarang beli nan sempat ramai dibicarakan tahun lalu.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi industri ritel lantaran jumlah visitor bukan satu-satunya parameter untuk mengukur keahlian bisnis. Masyarakat tetap mendatangi mal untuk makan, mencari hiburan, berekreasi, hingga bersosialisasi, tetapi keputusan untuk berbelanja semakin dipengaruhi kebutuhan dan keahlian keuangan.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menilai kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan sejauh ini relatif stabil. Kebiasaan masyarakat menjadikan mal sebagai tempat berkumpul turut menjaga aktivitas di pusat perbelanjaan, apalagi ketika kondisi upaya ritel sedang menghadapi tekanan.
"Sampai dengan saat ini rata-rata tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan relatif stabil lantaran ada kecenderungan masyarakat Indonesia tetap berjamu ke pusat perbelanjaan dalam segala situasi dan kondisi," kata Alphonzus kepada CNBC Indonesia, Kamis (15/10/26).
Di sisi lain, ada perbedaan antara tujuan masyarakat datang ke mal dan keputusan mereka mengeluarkan uang. Pengunjung bisa tetap menikmati akomodasi pusat perbelanjaan tanpa kudu membeli barang, sehingga tingkat keramaian tidak otomatis mencerminkan kuatnya permintaan konsumen.
Alphonzus menjelaskan, mal sekarang juga mempunyai kegunaan sosial nan membikin masyarakat tetap datang meskipun tidak selalu beriktikad berbelanja. Perubahan kegunaan tersebut ikut menjelaskan kenapa jumlah visitor bisa memperkuat ketika transaksi ritel tidak mengalami peningkatan nan sama.
"Selain saat ini kegunaan pusat perbelanjaan bukan lagi hanya sekadar sebagai tempat berbelanja, masyarakat Indonesia juga mempunyai budaya suka berkumpul," ujarnya.
Tekanan terhadap transaksi juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi nan memengaruhi keputusan shopping rumah tangga. Ketika masyarakat menghadapi beragam tekanan, pengeluaran condong lebih selektif dan kebutuhan nan tidak mendesak dapat ditunda.
Selain itu, industri ritel tengah melewati periode low season setelah Ramadan dan Idulfitri, nan biasanya menjadi momentum puncak penjualan. Situasi tersebut membikin komparasi antara keramaian mal dan realisasi shopping perlu dilihat dengan mempertimbangkan siklus musiman industri.
"Khusus tahun ini periode low season mendapat tambahan tekanan sehubungan dengan periode nan relatif lebih panjang daripada sebelumnya akibat Ramadan dan Lebaran tiba lebih awal, ialah di triwulan pertama tahun 2026 ini," kata Alphonzus.
(hoi/hoi)
[Gambas:Video CNBC]
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·