BEI Mundurkan Penerapan Harga Saham Rp1, Ini Alasannya

Sedang Trending 3 jam yang lalu
BEI Mundurkan Penerapan Harga Saham Rp1, Ini Alasannya IHSG.(Antara)

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan menunda penerapan penyesuaian batas minimum nilai saham nan diperdagangkan di pasar reguler dan pasar tunai dari saat ini senilai Rp50 per saham menjadi Rp1 per saham. Implementasi ditargetkan dilaksanakan pada pekan ketiga alias keempat September 2026, dari sebelumnya ditargetkan mulai bertindak pada 7 September 2026.

"Jadi untuk persiapan penghapusan nilai minimum Rp50 itu sudah dua kali kita mengadakan mock trading (simulasi perdagangan saham). Dari dua kali mock trading itu hasil sementara adalah 83 Anggota Bursa sudah siap, tetapi 8 Anggota Bursa itu belum siap," ujar Jeffrey saat diwawancarai wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (1/9).

Jeffrey memastikan bakal terus menjalin komunikasi dan melakukan pendampingan dengan para personil bursa nan menyatakan belum siap terhadap penyesuaian pemisah minimum nilai saham tersebut.

"Saat ini kita intens berkomunikasi dengan personil bursa nan belum siap, dengan pendampingan nan bakal kita berikan. Kemudian sasaran untuk live kita jadikan menjadi di minggu ketiga alias minggu keempat bulan September (2026). Karena kita bakal menunggu kesiapan dari seluruh personil bursa," ujar Jeffrey.

Meskipun terdapat penerapan penyesuaian pemisah minimum nilai saham tersebut, Jeffrey meyakini tidak bakal memberikan akibat terhadap aliran biaya asing atau capital outflow, namun justru bakal menciptakan likuiditas dan price discovery yang lebih baik.

"Harusnya tidak ada tidak bakal mempengaruhi potensial outflow. Tetapi, nan kita tuju adalah likuiditas nan lebih baik dan price discovery yang lebih baik," ujar Jeffrey.

Jeffrey optimistis para lembaga penyedia indeks dunia (MSCI hingga FTSE) bakal merespon positif penyesuaian pemisah minimum nilai saham nan diperdagangkan di pasar reguler dan pasar tunai dari saat ini senilai Rp50 per saham menjadi Rp1 per saham.

Ia mengatakan kepercayaan tersebut berkaca dari respons positif pelaku pasar pada saat sosialisasi dan uji coba penyesuaian tersebut nan dilakukan pada 22 dan 29 Agustus 2026.

"Mulai dari kami melakukan FGD, kemudian kami melakukan sosialisasi kepada pelaku, feedback nan kami dapat sangat positif. Artinya jika feedback dari pelaku itu sangat positif, tentu besar angan kami MSCI, FTSE, dan dunia index provider lainnya juga bakal merespon ini dengan positif," ujar Jeffrey. (Ant/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia