ilustrasi operasi SAR.(MI)
KEPALA Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menegaskan penanganan musibah di Indonesia mengandalkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Hal itu disampaikan di tengah pembahasan pemerintah mengenai potensi ancaman bencana, mulai dari banjir hingga musim kemarau berkepanjangan.
Syafii mengatakan Basarnas tidak bekerja sendiri dalam setiap operasi pencarian dan pertolongan. Sesuai tugasnya sebagai SAR Mission Coordinator, Basarnas mengoordinasikan penyelenggaraan operasi di lapangan dengan melibatkan beragam lembaga pemerintah serta potensi SAR nan ada.
"Terkait dengan penanganan musibah tentunya Basarnas tidak berdiri sendiri. Kita sesuai kegunaan di lapangan memang selaku SAR Mission Coordinator, kita bekerja sama dengan seluruh kementerian lembaga, begitu juga kita dibantu oleh seluruh potensi," kata Syafii kepada pewarta di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (28/7).
Menurutnya, support tidak hanya datang dari sisi personel, tetapi juga sarana dan prasarana. Melalui nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah kementerian dan lembaga, terutama TNI dan Polri, seluruh kekuatan nan dibutuhkan dalam operasi pencarian dan pertolongan dapat dikerahkan sesuai kebutuhan di lapangan.
Saat ditanya mengenai langkah Basarnas menghadapi ancaman musim tandus berkepanjangan, Syafii memilih menunggu pemaparan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kondisi cuaca dan suasana nan diperkirakan terjadi. "Kita justru mau mendengar dari info nan kelak disampaikan oleh Kepala BMKG," ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam siklus penanggulangan musibah nasional, Basarnas berfokus pada penanganan kedaruratan manusia. Adapun koordinasi penanganan musibah secara keseluruhan berada di bawah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Basarnas mengenai dengan tugas penanganan kedaruratan manusia. Artinya dalam siklus penanganan kebencanaan ini kita di bawah koordinator oleh Kepala BNPB," ucapnya. (Mir/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·