Jakarta, CNBC Indonesia - Komisi XII DPR RI mengungkapkan temuan potensi Logam Tanah Jarang (LTJ) di Sulawesi nan berbeda dengan persediaan nan selama ini dikenal di Bangka Belitung.
Adapun, andaikan di Bangka Belitung logam tanah jarang ditemukan sebagai mineral ikutan dari penambangan timah, di Sulawesi komoditas strategis tersebut disebut ditemukan sebagai mineral utama. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya.
Menurut Bambang, selama ini salah satu sumber logam tanah jarang di Indonesia berasal dari Bangka Belitung. Namun, keberadaannya diperoleh sebagai hasil sampingan dari aktivitas penambangan timah.
"Di Bangka Belitung ini kan mineral utamanya adalah timah. Tetapi ketika proses menambang timah, didapat beberapa mineral-mineral ikutan. Dan di dalam salah satunya ada xenotim, kemudian juga ada juga seperti apa namanya, monasit. nan rupanya di dalam monasit mengandung logam tanah jarang," ujar Bambang kepada CNBC Indonesia dalam Economic Update, dikutip Rabu (24/6/2026).
Namun demikian, dia mengungkapkan pihaknya menerima laporan mengenai keberadaan logam tanah jarang di Sulawesi nan mempunyai karakter berbeda. Di wilayah tersebut, mineral strategis itu disebut ditemukan langsung sebagai mineral utama.
"Di sana Badan Industri Mineral juga sudah mendapat, alias Perminas ya, sudah mendapat IUP dari Kementerian ESDM mengenai dengan Logam Tanah Jarang. Jadi di sana katanya ada satu wilayah ketika dilakukan pertambangan logam tanah jarang itu didapat langsung sebagai mineral utama. Ya apapun itu, intinya kita punya," kata Bambang.
Sebelumnya, PT Timah (Persero) Tbk (TINS) bersiap untuk membangun pabrik pengolahan mineral tanah jarang nan bakal dimulai melalui groundbreaking pada 20 Mei 2026. Pabrik mineral nan diburu bumi ini merupakan bagian dari pengarahan Presiden Prabowo Subianto.
Direktur Utama Timah Restu Widiyantoro menjelaskan pembangunan pabrik ini menjadi tonggak baru bagi perusahaan, mengingat selama ini pengolahan mineral tanah jarang belum pernah dilakukan.
"Dan ini nan tantangan paling utama lantaran pemerintah sekarang Bapak Presiden sudah apalagi nan paling dekat tanggal 20 Mei memerintahkan kami untuk groundbreaking untuk proyek pabrik mineral tanah jarang," kata Restu dalam RDP berbareng Komisi VI DPR RI, dikutip Senin (6/4/2026).
Restu membeberkan, Prabowo telah memberikan pengarahan langsung agar proyek ini segera direalisasikan, dengan sasaran percepatan monetisasi. Setidaknya, dalam waktu paling lambat dua tahun setelah pembangunan dimulai, pabrik tersebut sudah bisa menghasilkan produk berbobot ekonomi.
"Groundbreakingnya bakal dilakukan kelak tanggal 20 Mei dan Pak Presiden sudah memerintahkan kudu monetisasi selama paling sigap alias paling lambat dua tahun kudu ada produk monetisasinya. Artinya sudah bisa menghasilkan duit untuk negara," ujarnya.
Menurut dia, pengelolaan mineral tanah jarang merupakan perihal nan relatif baru bagi perusahaan. Namun demikian, pihaknya optimistis dapat mengembangkan sektor tersebut dengan berbekal pengalaman puluhan tahun dalam mengelola komoditas timah.
"Hanya nan dibutuhkan adalah rasa pede untuk siap dan berani mengelola lantaran itu memang nilainya luar biasa," katanya.
Adapun, nilai ekonomi mineral ikutan timah berpotensi meningkat hingga puluhan kali lipat andaikan sukses diolah menjadi produk berbobot tinggi. Misalnya seperti untuk kebutuhan pembangkit listrik, daya surya, hingga bahan baku kendaraan listrik.
"Dan ini tantangan bagi kami di PT Timah. Untung kami beruntung sekarang ada mitra kami nan sebelumnya kami puluhan tahun sendirian sekarang sudah ada Perminas nan dibentuk oleh pemerintah dalam beberapa bulan ini dan sudah mulai berbareng dengan kami untuk mengeksekusi program-program pemerintah," katanya.
(pgr/pgr)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·