Banyak Kecelakaan di Perlintasan Kereta, Pakar: Kurang Edukasi Lalin di Sekolah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai berbenturan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Moms, kecelakaan di perlintasan kereta sekarang tengah menjadi sorotan.

Dalam beberapa hari terakhir, rangkaian kejadian terjadi berturut-turut. Mulai dari tabrakan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek pada 27 April, hingga mobil tertemper KA Argo Bromo Anggrek dan menewaskan empat orang, termasuk anak usia 8 tahun di Grobogan, Jawa Tengah pada 1 Mei 2026.

Namun, kasus itu tak membikin beberapa pengendara jadi lebih hati-hati. Baru-baru ini di Cimahi, terekam penduduk tetap nekat menerobos rel saat kereta sudah sangat dekat, apalagi ada pengendara motor nan tetap menyelonong sembari mendorong kendaraannya.

Kenapa perihal ini bisa terjadi ? Berikut hasil pengamatan mahir tentang kejadian nan terus berulang.

Ini Kata Pengamat Transportasi soal Pemicu Kecelakaan di Perlintasan Kereta

Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai berbenturan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Data Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan menunjukkan, pemicu kecelakaan di perlintasan kereta didominasi oleh perilaku pengguna jalan nan suka menerobos. Artinya, masalah utamanya bukan sekadar infrastruktur, tapi juga kesadaran bakal keselamatan diri.

Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, menyoroti tingginya nomor kecelakaan ini berangkaian erat dengan minimnya edukasi keselamatan lampau lintas sejak dini.

“Pengintegrasian pendidikan keselamatan lampau lintas ke dalam kurikulum di Indonesia bukan sekadar upaya administratif, melainkan langkah strategis untuk memutus rantai kecelakaan nan didominasi oleh usia produktif,” ujarnya pada kumparanMOM, Jumat (1/5).

Ia menilai, di banyak negara maju, pendidikan keselamatan tidak hanya soal mengenal rambu, tetapi juga membentuk karakter dan kebiasaan sejak kecil. Sementara di Indonesia, aspek ini belum melangkah optimal.

“Prinsip 3E dalam keselamatan seperti education, engineering, dan enforcement sebenarnya sudah lama diterapkan di negara maju. Namun di Indonesia, edukasi khususnya dalam corak kurikulum tetap belum maksimal,” tegasnya.

Djoko menekankan, maraknya pengendara nan nekat menerobos palang kereta menunjukkan bahwa budaya keselamatan belum tertanam kuat. Tanpa pemahaman sejak dini, kebiasaan berisiko ini bakal terus berulang.

Sehingga beberapa poin ini perlu jadi perhatian seperti:

  • Banyak pengendara tetap nekat menerobos palang kereta

  • Edukasi keselamatan lampau lintas belum terintegrasi sejak dini

  • Pendekatan 3E belum melangkah seimbang

  • Kesadaran keselamatan diri tetap rendah

Kejadian ini jadi pengingat bahwa keselamatan bukan hanya soal aturan, tapi pilihan. Karena di perlintasan kereta, satu keputusan nekat bisa berujung penyesalan seumur hidup, Moms.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan