Tambahan Rp 20 juta per unit rencananya bakal diarahkan untuk peningkatan kualitas bentuk bangunan. Peningkatan tersebut meliputi pemasangan keramik di seluruh ruangan dan bilik mandi, pemasangan plafon, penyelesaian plester tembok nan lebih halus, serta penambahan teras agar kediaman lebih layak dan fungsional bagi family terdampak.
“Sementara jika nan sekarang Rp 60 juta tidak pakai keramik dan tidak plester halus. Kamar mandinya belum keramik. Kalau kelak tambah Rp 20 juta, ya keramik semua. Selain itu, ada plafon, kemudian di luar dikasih teras dan bilik mandi keramik semua,” ujar Suharyanto nan juga wakil ketua Satgas PRR.
Saat ini, BNPB terus mempercepat pembangunan huntap in-situ maupun ex-situ berdikari di tiga provinsi terdampak. Dari total kebutuhan sekitar 16.000 unit, sekitar 800 unit huntap telah masuk dalam tahap pengerjaan. Suharyanto menegaskan, usulan kenaikan support tersebut telah mendapatkan kesepahaman di tingkat kementerian dan lembaga, dan selanjutnya menunggu keputusan Presiden.
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian mendukung penuh usulan tersebut sebagai langkah solutif untuk mempercepat pemulihan kediaman warga.
Tito menjelaskan, pembangunan huntap in-situ dan ex-situ berdikari mempunyai tingkat kompleksitas tinggi lantaran tersebar di banyak titik. Karena itu, Satgas PRR mengusulkan penggunaan sistem Dana Siap Pakai (DSP) BNPB agar penyelenggaraan di lapangan lebih fleksibel, cepat, dan tepat sasaran.
“Huntap nan in-situ dan ex-situ berdikari nan menjadi tanggung jawab BNPB ini lebih kompleks lantaran sendiri-sendiri. Ya, itu bakal digunakan sistem tersendiri nan kita usulkan adalah sistem namanya Dana Siap Pakai, lantaran memang BNPB ini dia fleksibel,” tutur Tito.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·