Bangun Indonesia, Wamendagri Bima Ajak Anak Muda Ambil Peran di Era Digital

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Wakil Menteri Dalam Negeri RI (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto membujuk generasi muda membangun Indonesia dengan mengambil peran di tengah disrupsi digital dan perkembangan kepintaran artifisial (AI) seperti saat ini.

Menurut Bima, generasi muda hari ini bakal bisa menaklukkan bumi dengan tiga catatan: membangun kompetensi, membangun jaringan, dan mengambil peran.

"Sekecil apa pun, ambil peran. Mau di RT, mau di komunitas, mau di kota, mau di kampus, ambil peran," kata Bima, dalam keterangan tertulis, Kamis (27/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal tersebut dia sampaikan saat menjadi narasumber dalam Talk Show Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, Kamis (27/8).

Dalam kesempatan itu, Bima menyoroti kekhawatiran mahasiswa terhadap perkembangan AI. Ia berpesan agar generasi muda tetap optimistis.

Pasalnya, secanggih apa pun AI, manusia bakal tetap bisa mengendalikan teknologi tersebut sepanjang menguasainya dengan baik.

"AI itu keniscayaan, AI itu adalah tanda-tanda zaman. Tapi yakinilah, AI memudahkan dan menghubungkan, tapi tidak semua tergantikan oleh AI. AI tidak punya hati," ungkap Bima.

"AI tidak punya nurani. AI tidak bakal menghasilkan wisdom dan value. Selamanya manusia bakal jadi pemenang, lantaran manusia mempunyai nilai, mempunyai value," sambungnya.

Lebih lanjut, Bima meminta generasi muda untuk bisa membaca tanda-tanda zaman, baik melalui science (keilmuan) maupun wisdom (kebijaksanaan). Menurutnya, tanda-tanda era perlu dibaca dengan memandang ke depan sekaligus belajar dari masa lalu.

Sejarah, kata dia, mengajarkan beragam perihal nan esensial dan krusial untuk menghadapi disrupsi nan terjadi saat ini.

Bima menjelaskan perubahan sekarang berjalan semakin cepat. Jika sebelumnya perubahan terjadi dalam satu dekade, kemudian lima tahun, dan tiga tahun, saat ini perubahan apalagi dapat terjadi dalam hitungan hari akibat perkembangan dan pengaruh bumi digital.

"Kultur dan teknologi berubah dengan sangat cepat. Sekarang bayangkan, revolusi itu digerakkan bukan lewat buku, bukan lewat pamflet, tapi lewat TikTok, lewat Threads, lewat platform di sosial media, lewat komersial media," tutur Bima.

"Pergerakan sosial di bumi nyata didorong oleh kejadian di bumi maya," sambungnya.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, Bima menyebut setidaknya ada tiga kompetensi nan perlu dipersiapkan generasi muda, ialah digital skills (kemampuan mendalami bumi digital), thinking skills (kemampuan berpikir analitis serta problem solving), dan human skills (kemampuan berasosiasi secara baik dengan orang lain).

"Hidup ini adalah seni bergaul, memperbanyak teman, memperkuat jaringan. Dan pada saatnya kalian bakal percaya bahwa hidup nan kalian dapatkan nggak ada artinya tanpa diimbangi oleh karakter," terang Bima.

Selain kompetensi, Bima menekankan pentingnya membangun karakter melalui pengalaman dan hubungan di luar ruang perkuliahan. Di era digital, pengetahuan pengetahuan dapat diperoleh dari beragam sumber, tidak hanya melalui bangku kuliah, tetapi juga dari ruang-ruang diskusi, pergaulan, serta hubungan dengan masyarakat.

Menurutnya, UIN nan dia kenal bukan sekadar menara gading, melainkan lembaga pendidikan nan menyatu dengan lingkungan dan masyarakat. Karena itu, dia berambisi mahasiswa tidak hanya memperkuat kompetensi melalui textbook nan diperoleh di ruang-ruang kuliah, tetapi juga membangun karakter dengan menjelajahi beragam perspektif kehidupan di luar kampus.

"Saya mendoakan teman-teman semua, mahasiswa baru UIN, tidak saja mewarisi kepintaran para penerus kalian, tapi juga mewarisi kebijaksanaan dan kematangan para pendahulu kalian nan lebih dulu mentas," pungkasnya.

(hnu/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑