Jakarta -
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) domestik saat ini berada di atas standar. Hal itu dia laporkan kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (27/4) kemarin.
Dalam pertemuan tersebut, Bahlil menegaskan pasokan daya nasional tetap terjaga dengan kualitas BBM solar maupun bensin di atas standar minimum nasional. Bahkan sejak meletusnya perang Amerika Serikat (AS) dan Iran, dia menyebut pasokan BBM domestik tetap stabil.
"Baik dari sisi BBM produk, baik solar maupun bensin. Dari semua aspek, alhamdulillah semuanya di atas standar minimum nasional. Jadi alhamdulillah sudah dua bulan, nyaris dua bulan ketika kejadian, geopolitik di Timur Tengah tentang Selat Hormuz, kita tetap stabil," ujar Bahlil dalam keterangan tertulis Kementerian ESDM, Selasa (28/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Bahlil juga memastikan stok minyak mentah (crude) untuk kebutuhan pengembangan kilang alias refinery nasional tetap kondusif di atas pemisah minimum nasional. Dengan demikian, kondisi pasokan daya nasional secara keseluruhan relatif tanpa kendala.
Dalam pertemuan tersebut, Bahlil juga melaporkan upaya mengurangi ketergantungan impor liquefied petroleum gas (LPG). Adapun saat ini, konsumsi LPG nasional tercatat sekitar 8,6 juta ton per tahun dengan produksi dalam negeri berkisar di nomor 1,6 hingga 1,7 juta ton.
Dengan demikian, terdapat sekitar 7 juta ton tetap kudu dipenuhi melalui impor. Pemerintah saat ini tengah mengkaji sejumlah pengganti substitusi, melalui pengembangan Dimethyl Ether (DME) berbasis batu bara kalori rendah dan pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG).
Menurut Bahlil, CNG menjadi salah satu opsi lantaran memanfaatkan gas C1 dan C2 nan produksinya cukup besar di dalam negeri. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan gas domestik sekaligus menekan ketergantungan impor LPG.
Pemanfaatannya juga dinilai lebih efisien lantaran dapat digunakan untuk hotel, restoran, hingga SPBG nan sebagian telah melangkah saat ini.
"Sekarang lagi tetap dalam pembahasan nan tadi saya laporkan adalah kita membikin CNG. Tapi ini tetap dalam pembahasan, saya kudu finalisasi, dan ini salah satu pengganti terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian daya kita di sektor LPG bisa dapat kita lakukan," jelas Bahlil.
Bahlil mengatakan, pemerintah juga menyiapkan langkah strategis untuk menghadapi potensi krisis daya global. Di antaranya melalui optimasi lifting migas, penguatan program biodiesel B50, hingga pengembangan bahan bakar berbasis bioetanol melalui E20.
Pemerintah tengah melaksanakan uji jalan pada beragam sektor pengguna. Hasil uji jalan pada sektor otomotif menunjukkan penggunaan B50 berada dalam kondisi aman, tanpa hambatan signifikan, dengan performa mesin, filter bahan bakar, serta kualitas pelumas tetap berada dalam pemisah standar nan direkomendasikan pabrikan.
Keberhasilan tersebut menjadi dasar ekspansi penerapan ke sektor perkeretaapian melalui uji jalan pada lokomotif sebagai bagian dari kesiapan mandatori B50 secara nasional. Langkah ini krusial untuk mengurangi impor solar.
"Kita itu ada tiga perihal nan kudu kita lakukan dalam menghadapi krisis daya bumi sekarang. nan pertama adalah kita kudu mengoptimalkan lifting kita. nan kedua adalah mencari diversifikasi, seperti B50. B50 itu kan mengurangi impor solar kita. nan ketiga adalah kita kudu sorong ke E, untuk bensin. Etanol, E20. Itu adalah bagian salah satu strategi," pungkasnya.
(ahi/hns)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·