Liputan6.com, Jakarta - Lubang nan menganga dengan pijar merah menyala di letak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menjadi tanda adanya ancaman tersembunyi. Meski api di permukaan tampak padam, bara rupanya tetap dapat merambat di bawah tanah dan memicu kebakaran nan susah dideteksi.
Fenomena nan dikenal sebagai ground fire alias kebakaran bawah permukaan ini terjadi pada lahan gambut nan mempunyai lapisan material organik tebal.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, menjelaskan bahwa bara api dapat terus membakar material organik di dalam gambut meski permukaan lahan terlihat tidak lagi terbakar.
“Fenomena lubang api bawah tanah pada kebakaran lahan gambut di Kalimantan merupakan corak ground fire alias api bawah permukaan. Lahan gambut tersusun atas tumpukan material organik tebal nan kaya bakal gas metana. Ketika terjadi kebakaran, area permukaan mungkin terlihat sudah padam, tetapi bara api (smoldering) terus merayap di bawah tanah,” kata Berton dalam keterangan tertulis, Kamis (15/10/2026).
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374393/original/096736500_1792049097-WhatsApp_Image_2026-10-15_at_14.18.19.jpeg)
Perbesar
Proses pembakaran di bawah permukaan tersebut dapat mengikis lapisan organik hingga membentuk rongga di dalam tanah. Ketika material di bawahnya lenyap terbakar, lapisan tanah di atasnya kehilangan penopang dan akhirnya melesak, menyisakan lubang nan dapat mengeluarkan asap serta pijar api.
“Saat lapisan organik di dalam tanah lenyap terbakar, struktur tanah di atasnya melesak dan membentuk rongga alias lubang nan mengeluarkan asap serta pijar api. Sifatnya nan tersembunyi dan minim radiasi panas tinggi di permukaan membikin api bawah tanah ini susah terdeteksi oleh gambaran satelit pemantau hotspot biasa,” jelasnya.
Karakteristik tersebut membikin penanganan karhutla di lahan gambut memerlukan metode khusus. Pemadaman tidak cukup hanya dengan membasahi permukaan lahan lantaran bara api tetap dapat memperkuat di lapisan bawah tanah.
Menurut Berton, salah satu upaya nan dilakukan adalah pembasahan menyeluruh hingga ke lapisan gambut nan terbakar melalui teknik penyuntikan air.
“Untuk menangani kejadian tersebut, pemadaman dilakukan melalui pembasahan total (ground soaking) dengan teknik penyuntikan air (water injection) menembus kedalaman gambut menggunakan pipa bertekanan tinggi,” ujar Berton.
Optimalkan Modifikasi Cuaca
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374394/original/008251400_1792049098-WhatsApp_Image_2026-10-15_at_14.19.21.jpeg)
Perbesar
Selain pemadaman langsung, BNPB juga mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berbareng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta TNI andaikan kondisi memungkinkan. Operasi ini bermaksud memicu hujan buatan untuk membantu membasahi wilayah terdampak, terutama titik kebakaran nan susah dijangkau oleh satuan tugas di darat.
“Bila memungkinkan, langkah ini dikombinasikan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berbareng BMKG dan TNI untuk memicu hujan buatan di titik-titik nan susah dijangkau satgas darat,” katanya.
Upaya pencegahan juga dilakukan melalui pembangunan sumur bor dan penutupan sekat kanal untuk menjaga tinggi muka air tanah. Dengan kondisi gambut nan tetap basah, akibat lahan terbakar diharapkan dapat ditekan.
Di sisi lain, masyarakat diminta berhati-hati ketika berada di area nan terdampak karhutla. Permukaan tanah nan terlihat padat belum tentu kondusif lantaran bisa menyembunyikan rongga akibat pembakaran material organik di bawahnya. Struktur tanah nan rentan berisiko ambles dan membahayakan penduduk nan melintas.
“Selain itu, pengerjaan sumur bor serta penutupan sekat kanal terus dioptimalkan guna menjaga tinggi muka air tanah tetap basah. Membatasi akses masyarakat ke letak terdampak jadi krusial lantaran struktur tanah nan tersisa sangat rentan dan rawan ambles, sehingga berisiko membikin penduduk terperosok ke dalam rongga bara panas,” pungkasnya.
Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·