Atasi Karhutla Taman Nasional, DPR Tekankan Pentingnya Evaluasi Early Warning System

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Atasi Karhutla Taman Nasional, DPR Tekankan Pentingnya Evaluasi Early Warning System Ilustrasi(Antara)

ANGGOTA Komisi IV DPR RI Daniel Johan mengatakan beberapa titik kebakaran rimba dan lahan (karhutla) susah dijangkau, sehingga menjadi salah satu penyebab meluasnya karhutla di area Taman Nasional.

"Perlu dipahami medan di beberapa titik Tengger susah dijangkau tim darat, sehingga penggunaan water bombing menjadi pilihan nan tepat," kata Daniel saat dihubungi, Selasa (11/8).

Ia mendorong agar operasi pemadaman dilakukan secara sistematis. Selain itu perlu support teknologi dengan langkah pemantauan titik api secara real-time melalui drone, untuk memetakan sebaran api secara akurat. Sehingga meminimalisir personel darat nan kudu masuk ke titik-titik berisiko tinggi di medan rawan tersebut. 

Data dari drone juga bisa menjadi dasar penentuan prioritas sasaran water bombing agar lebih efektif dan tepat sasaran. 

Selain itu koordinasi antara BNPB, BPBD, Balai Besar TNBTS, TNI/Polri, dan relawan juga perlu diperkuat agar tidak ada tumpang tindih maupun titik nan luput dari pemadaman. 

"Kami Komisi IV DPR RI juga meminta pemerintah pusat memastikan kecukupan anggaran serta support logistik bagi personel di lapangan, mengingat keselamatan mereka kudu jadi prioritas utama di medan seekstrem ini," ujar dia.

Mitigasi Karhutla

Ke depan, menurutnya, perlu pertimbangan menyeluruh atas kesiapan mitigasi karhutla di area konservasi, termasuk investasi pada early warning system berbasis drone dan satelit, agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau. Terutama tahun ini nan telah diprediksi el nino nan panjang kudu siap siaga atas dampaknya.

"Kami turut prihatin atas kebakaran rimba di area Taman Nasional. Kawasan konservasi ini bukan hanya aset ekologis penting, tetapi juga penopang ekonomi wisata masyarakat sekitar, sehingga setiap hektare nan terbakar adalah kerugian jangka panjang nan tidak mudah dipulihkan," pungkasnya. (Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia