(Dok. Pribadi)
PENDIDIKAN abad ke-21 menuntut keahlian berpikir—kritis, analitis, kreatif, dan keahlian mentransfer pengetahuan ke situasi baru—agar siswa bisa beradaptasi dalam lingkungan nan dinamis, menghadapi tantangan nonlinier, dan memecahkan masalah nan belum pernah ditemui. Karena itu, pendidikan tidak cukup sekadar mentransmisikan pengetahuan; dia kudu membekali siswa dengan perangkat untuk mengarungi kehidupan nan semakin kompleks dan tidak pasti (Schleicher, 2019).
Tuntutan itu membuka kesempatan bagi para pegiat asesmen untuk melakukan reorientasi: dari asesmen nan berfokus pada perolehan nomor dan ranking (norm-referenced measurement) menuju asesmen nan mengungkap penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi secara substantif (criterion-referenced measurement)—sebuah model nan tidak sekadar menghakimi hasil, tetapi juga mendukung siswa menapaki pekerjaan pendidikan dan vokasional mereka ke depan.
KOMPETENSI GLOBAL
Sistem pendidikan nasional sudah mengisyaratkan pentingnya penguasaan kompetensi dunia alias keahlian abad ke-21, sebagaimana dijabarkan dalam kurikulum nasional melalui sejumlah kompetensi nan kudu dikuasai siswa setelah menyelesaikan suatu jenjang pendidikan tertentu. Namun, pesan positif kurikulum itu belum ditemukan keselarasannya dengan praktik pembelajaran dan penilaian, baik pada ujian berskala nasional maupun penilaian pada tingkat kelas/sekolah. Akibatnya, hasil penilaian belum dapat menjelaskan dengan baik kompetensi dan pengetahuan/keterampilan nan sudah dikuasai siswa selama mengikuti pembelajaran di sekolah.
Sejak beberapa tahun terakhir, penyelenggaraan ujian berskala nasional memang sudah mengupayakan perbaikan kualitas soal melalui asesmen nasional (AN), kemudian disempurnakan lagi melalui tes kompetensi akademik (TKA) sesuai dengan tuntutan kurikulum dan keahlian abad ke-21. Beberapa soal nan digunakan pada TKA dirancang untuk menangkap keahlian siswa dalam pemecahan masalah dan berpikir kompleks. Namun, sayangnya, interpretasi skor TKA tetap merujuk pada norm-referenced measurement, ialah membandingkan ranking sekolah, sehingga belum sepenuhnya sukses menjelaskan sejauh mana siswa sudah menguasai kompetensi dan pengetahuan/keterampilan nan dimandatkan kurikulum.
PENILAIAN SEKOLAH
TKA, sebagaimana dikemukakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), ditujukan antara lain untuk memvalidasi nilai/skor nan diproduksi guru/sekolah. Desain tes itu diklaim sebagai instrumen nan dapat mengukur kemampuan/kompetensi nan setara dengan keahlian siswa (testing to the right level). Namun, sayangnya, pengertian testing to the right level, nan semestinya mengenai erat dengan model pengukuran keahlian nan sesuai dengan kompetensi murid, belum sepenuhnya dipahami guru/sekolah. Akibatnya, proses pembelajaran nan terjadi di sekolah tetap belum banyak berubah: tetap berfokus pada muatan/konten kurikulum, belum pada kompetensi/kriteria.
Sejalan dengan itu, ujian nan diselenggarakan sekolah (formative dan summative assessment) juga belum menunjukkan perbaikan secara signifikan, baik dari kualitas instrumen nan digunakan, ragam penilaian, maupun pemanfaatan hasilnya, nan umumnya tetap sebatas untuk kepentingan nilai/angka rapor dan pemeringkatan. Padahal, info hasil penilaian formatif semestinya digunakan sebagai bahan refleksi dan membantu memperbaiki strategi siswa dalam belajar serta pembimbing dalam memberikan pengarahan pembelajaran. Namun, info tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan.
CARA PANDANG BARU
Dalam pendidikan kita tetap ditemukan 'pemujaan' nan berlebihan terhadap nilai/angka sehingga sering terjadi anomali hasil pendidikan. Murid bisa sukses memperoleh nilai/skor tinggi, katakanlah nomor 90, tetapi nan berkepentingan mengalami kesulitan menjelaskan suatu konsep nan sudah dipelajari dengan baik. Desain pembelajaran dan asesmen nan dikembangkan sekolah/guru pada umumnya hanya berfokus pada jumlah muatan/konten kurikulum, belum pada kompetensi alias kriteria nan semestinya dikuasai siswa sesuai dengan tujuan kurikulum.
Guru pada umumnya hanya disibukkan dengan gimana menuntaskan kurikulum (curriculum coverage) sesuai dengan almanak akademik daripada kedalaman pembelajaran. Indikator keberhasilan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dinas/pengawas tetap berkarakter sangat administratif, ialah ketuntasan kurikulum. Soal-soal instrumen asesmen nan dikembangkan banyak dan seragam, tetapi hanya bisa mengukur keahlian mahfuz siswa (rote learning). Sementara itu, soal nan dapat menangkap keahlian nan menstimulasi rasa mau tahu dan berpikir—pemahaman konsep, menjelaskan dengan bahasa siswa sendiri, menerapkan konsep nan sudah dipelajari pada situasi baru/berbeda, menganalisis dan berpikir kritis, serta gimana meningkatkan kualitas suatu temuan—sangat minim dikembangkan/digunakan. Padahal, jawaban atas soal-soal semacam itulah nan bakal menjadi bukti bahwa pembelajaran sudah terjadi.
PENGALAMAN SSB
Sekolah Sukma Bangsa (SSB) memilih jalan berbeda dalam mempraktikkan asesmen harian (formatif dan sumatif) pada tingkat kelas/sekolah. Pandangan nan berorientasi pada nomor tanpa makna nan diadopsi selama ini merupakan salah satu argumen kenapa pendekatan asesmen harian SSB kudu berbeda dari asesmen tradisional. Pendekatan asesmen nan dipilih SSB bukan untuk membandingkan satu siswa dengan siswa lainnya; sebaliknya, SSB menilai siswa berasas kriteria/kompetensi nan sudah ditetapkan dengan rumusan nan sangat jelas dan terukur. Setiap siswa bakal mengetahui dengan terang dan jelas seperti apa parameter keberhasilan sebelum mereka memulai pembelajaran.
Fokusnya bukan hanya pada nilai akhir, melainkan juga pada kualitas pemikiran, keahlian komunikasi, penerapan, dan pemahaman nan ditunjukkan sepanjang proses pembelajaran. Pendekatan itu membantu siswa memahami ekspektasi pembelajaran dengan jelas, berfokus pada peningkatan keahlian tertentu, belajar dari umpan kembali nan bermakna, merefleksikan kemajuan mereka, dan menetapkan tujuan untuk berkembang. Sebagai pendidik, asesmen berbasis kriteria/kompetensi bakal mendorong kita untuk mengubah percakapan dari 'Berapa nilai nan Anda dapatkan?' menjadi 'Apa nan sudah Anda pelajari, dan gimana Anda dapat lebih meningkatkan?'. Ketika asesmen menjadi perangkat untuk belajar, bukan sekadar mengukur hasil pembelajaran, siswa sedang mengembangkan kepercayaan diri, kemandirian, dan kemauan nan tulus untuk terus berkembang.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa reorientasi asesmen dari sekadar mengejar nomor menuju asesmen berbasis kriteria/kompetensi merupakan kebutuhan mendesak. Asesmen semestinya menjadi bukti bahwa pembelajaran betul-betul terjadi, bukan sekadar perangkat pemeringkatan. Pengalaman SSB menunjukkan pendekatan itu dapat dijalankan pada tingkat kelas/sekolah meskipun memerlukan pemahaman pembimbing nan memadai tentang kriteria, komitmen untuk memanfaatkan hasil asesmen sebagai umpan balik, serta support kebijakan sekolah. Ke depan, diperlukan upaya sistematis untuk menyelaraskan kebijakan asesmen nasional, praktik pembelajaran di kelas, dan pengembangan ahli pembimbing agar asesmen betul-betul berfaedah sebagai perangkat belajar. Wallaahu a'lam
.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·