AS-Iran Sepakati Jalur Komunikasi untuk Amankan Selat Hormuz dan Akhiri Perang Libanon

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
AS-Iran Sepakati Jalur Komunikasi untuk Amankan Selat Hormuz dan Akhiri Perang Libanon Pertemuan perdana AS dan Iran di Swis membuahkan hasil. Kedua negara sepakat membuka jalur komunikasi demi cegah bentrok di Selat Hormuz dan Libanon.(AFP)

IRAN dan Amerika Serikat sepakat membangun jalur komunikasi unik untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka sekaligus mengakhiri pertempuran di Libanon. Kesepakatan ini dicapai setelah kedua belah pihak merampungkan putaran pertama perundingan tenteram di Swiss.

Delegasi nan dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance dan perwakilan Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memulai perbincangan ini sebagai bagian dari periode negosiasi dua bulan nan diatur dalam perjanjian pembukaan pekan lalu. Mediator dari Pakistan dan Qatar menyatakan bahwa pembicaraan berjalan dalam atmosfer nan positif dan konstruktif.

"Kemajuan nan membesarkan hati telah dicapai, termasuk pembentukan sistem untuk pembicaraan teknis lebih lanjut," jelas pihak mediator. Jalur kontak tersebut dibentuk secara unik guna menghindari kejadian dan salah komunikasi di Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak bumi nan vital. Selain itu, sebuah "sel de-konflik" juga dibentuk berbareng otoritas Libanon demi mencegah pertempuran pecah kembali.

Perkembangan ini terjadi setelah awal negosiasi sempat tegang. Delegasi Iran sempat walk out menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump nan bakal menyerang Iran jika tidak menghentikan golongan proksinya di Libanon.

Menanggapi perihal itu, ketua negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan sikapnya. "Mereka sebaiknya berhati-hati dengan pernyataan mereka; angkatan bersenjata kami siap merespons mereka dengan langkah nan berbeda. Tidak peduli apa nan mereka katakan, kamilah nan bertindak," tegas Ghalibaf.

Meski demikian, Wakil Presiden AS JD Vance tetap menyambut positif perbincangan di Swiss ini sebagai pertemuan nan bersejarah.

"Pertanyaan di depan kita sekarang adalah seberapa banyak lagi nan bisa kita capai bersama? Bisakah kita membuka lembaran baru? Bisakah kita mengubah hubungan di Timur Tengah secara permanen? Atau apakah kita kembali melakukan hal-hal dengan langkah lama, nan bukan merupakan pilihan kami, tetapi tentu saja merupakan sesuatu nan sangat mungkin terjadi," ujar Vance.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan lewat media sosial X bahwa mediasi Pakistan dan Qatar telah membawa kemajuan besar. Ia menyebut ekspor minyak bumi dibebaskan, blokade dicabut, aset nan dibekukan mulai dirilis, serta rencana rekonstruksi besar-besaran untuk Iran segera diluncurkan.

Konflik ini sendiri bermulai setelah ketegangan eskalasi menyelimuti Timur Tengah, di mana Libanon terseret akibat baku tembak antara Israel dan Hizbullah. Hingga kini, Kementerian Kesehatan Libanon mencatat total korban tewas akibat pertempuran telah melampaui 4.100 jiwa. Pembicaraan teknis lanjutan dijadwalkan bakal terus berjalan sepanjang pekan ini di Burgenstock, Swiss. (AFP/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia