HUBUNGAN antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai titik terendah baru setelah kedua negara terlibat dalam tindakan saling serang pada Kamis (28/5). Insiden ini menjadi bentrok paling serius sejak gencatan senjata dimulai pada April lalu, sekaligus menakut-nakuti upaya negosiasi untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz nan vital bagi daya global.
Eskalasi di Bandar Abbas dan Keterlibatan Kuwait
Bentrokan bermulai ketika pasukan Iran melepaskan tembakan ke arah empat kapal nan mencoba melintasi Selat Hormuz. Sebagai respons, pasukan AS menyerang stasiun kendali darat di pelabuhan selatan Bandar Abbas. Pihak Iran, melalui Garda Revolusi, membalas dengan menargetkan pangkalan udara Amerika nan dianggap sebagai sumber serangan tersebut.
Insiden ini turut menyeret Kuwait, sekutu AS nan menampung pasukan Amerika. Pemerintah Kuwait menyatakan bahwa pertahanan udara mereka aktif merespons tembakan nan masuk ke wilayah mereka.
Ancaman Keras Donald Trump terhadap Oman
Di tengah ketegangan militer, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan kontroversial mengenai kendali Selat Hormuz. Trump menolak usulan pengaturan jangka pendek nan melibatkan Oman dan Iran untuk mengelola jalur air tersebut.
"Selat itu bakal terbuka untuk semua orang. Ini perairan internasional dan Oman kudu bersikap seperti nan lain atau kami kudu menghancurkan mereka (blow them up)," tegas Trump. Pernyataan ini memicu kecaman dari ahli bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, nan menyebutnya sebagai corak intimidasi dalam hubungan internasional.
Dampak Ekonomi: Harga minyak bumi dilaporkan melonjak pada Kamis segera setelah laporan serangan tersebut muncul, menghapus angan pasar bakal kesepakatan tenteram nan sempat menurunkan nilai sehari sebelumnya.
Front Libanon Memanas
Situasi semakin rumit dengan eskalasi di Libanon. Militer Israel mengumumkan serangan baru terhadap prasarana Hizbullah di sekitar Tyre dan menetapkan wilayah selatan Sungai Zahrani sebagai area tempur. Langkah ini memaksa ribuan penduduk sipil mengungsi di tengah seremoni Idul Adha.
Kementerian Kesehatan Libanon melaporkan bahwa total korban tewas sejak perang pecah pada 2 Maret telah mencapai 3.269 jiwa. Iran menegaskan bahwa setiap kesepakatan tenteram di masa depan kudu mencakup penghentian bentrok di Libanon.
Masa Depan Negosiasi nan tidak Pasti
Meskipun kedua belah pihak menyatakan tidak mau kembali ke perang terbuka, tindakan saling serang ini menunjukkan rapuhnya gencatan senjata nan ada. Bagi penduduk sipil di Teheran, ketidakpastian ini menjadi beban harian.
"Saya merasa belum ada nan pasti. Pertanyaan harian kami adalah: apakah bakal ada serangan rudal malam ini?" ujar Amir, seorang developer perangkat lunak di Teheran.
Hingga saat ini, AS terus menekan Iran melalui jalur ekonomi, termasuk hukuman terbaru dari Departemen Keuangan AS terhadap Otoritas Selat Teluk Persia Iran, lembaga baru Teheran nan memungut biaya bagi kapal nan melintasi Selat Hormuz. (AFP/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·