Video tour guide yang menyalakan api biru (blue fire) di area tambang belerang Kawah Ijen, Banyuwangi viral di media sosial. Dalam video nan tersebar luas di media sosial itu, tour guide itu terlihat mencoba menyalakan api sebagai contoh untuk memunculkan kejadian api biru di Kawah Ijen.
Dari tersebarnya video itu memunculkan pertanyaan di publik. Apakah api biru di Kawah Ijen tetap ada? Apalagi beredar kabar, sekarang api biru Kawah Ijen sudah padam lantaran disiram air.
Menanggapi rumor nan ramai di media sosial itu, kumparan mencoba mencari penjelasan.
"Dapat kami jelaskan bahwa blue fire merupakan kejadian alam nan muncul lantaran adanya aktivitas pengambilan belerang oleh masyarakat. Sebenarnya kemunculan blue fire ini selalu dicegah alias dimatikan agar tidak membakar lenyap belerang nan dihasilkan," kata Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember Purwantono via sambungan telepon, Kamis (7/5).
Purwantono nan juga mengawasi area Ijen ini menjelaskan, jadi saat ini api di kawah ijen padam, lantaran kemungkinan jika api ada bisa mengurangi produktivitas belerang.
"Saat ini kemungkinan terjadi adanya penurunan produksi belerang nan signifikan, karenanya petugas solfatara sebagai pengendali produksi belerang condong mencegah kemunculan blue fire dan berupaya mematikannya agar produksi belerang tidak menurun," beber dia.
Purwantono juga menguraikan, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya keberadaan blue fire saat itu lebih mudah dilihat lantaran kemunculannya diperkirakan tidak mempengaruhi produksi belerang saat itu sehingga tidak dimatikan
"Kenapa dulu ada, bisa jadi dulu kemunculannya tidak mempengaruhi produktivitas belerang. Bisa jadi sekarang padam, lantaran tidak mau produksi belerangnya sedikit lantaran terbakar oleh blue fire," urai dia.
Sementara itu menurut Ketua HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Banyuwangi, Andika Rahmat Hidayat, salah satu proses api biru nan muncul di kawah ijen tersebut berangkaian dengan aktivitas penambangan belerang nan dilakukan menggunakan pipa keramik.
Menurutnya, gas belerang nan keluar melalui pipa bakal mengalami proses sublimasi menjadi belerang cair. Sebagian lainnya berubah menjadi serbuk belerang nan menempel pada permukaan pipa dan batuan di sekitar letak tambang.
“Karena suhu nan sangat tinggi, serbuk belerang nan menempel ini menjadi mudah terbakar menjadi api biru. Namun sering kali dipadamkan oleh tenaga kerja tambang agar tidak merambat ke bagian lain nan bisa menyebabkan perusahaan kehilangan banyak belerang,” ujar Andika.
Benarkah Api Biru di Ijen Padam?
Andika juga menjelaskan soal berita api biru sengaja dimatikan. Kata dia, itu untuk mencegah kebakaran belerang meluas di area tambang.
“Iya lantaran area itu masuk dalam area tambang. Dan aktivitas penyiraman itu selalu dilakukan, bukan hanya di malam hari, apalagi di siang hari juga. Karena jika tidak dilakukan, semua belerangnya bakal terbakar dan bisa menyebabkan perusahaan tidak mendapatkan belerangnya,” lanjutnya.
Fenomena api biru sebenarnya tidak hanya muncul pada malam hari. Beberapa hari lampau api biru tetap terlihat keluar meski terjadi pada siang hari. Namun, warna birunya memang tidak tampak jelas lantaran pengaruh sinar matahari.
“Meski tidak terlihat warna api birunya, tapi bisa dilihat dari warna asap belerang nan berbeda,” ujarnya. Ia menambahkan, kejadian tersebut kerap muncul dengan sendirinya di beberapa titik area tambang belerang di Kawah Ijen.
Sementara soal video tour guide membikin api biru, perihal itu dilakukan untuk memberikan edukasi kepada visitor mengenai kejadian blue fire dan proses terbentuknya api biru di Kawah Ijen. Saat itu, visitor disebut tidak bisa memandang blue fire di titik nan biasa dikunjungi.
Meski demikian, Andika menyebut belum ada patokan unik nan mengatur soal penyalaan blue fire dengan langkah tertentu di area tersebut.
Ia pun mengingatkan bahwa area tambang di Kawah Ijen merupakan area inti area konservasi sekaligus masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) III.
“Sebenarnya kita turun ke area tambang saja sudah melanggar, lantaran itu masuk area area inti area konservasi dan juga mendekat ke Kawasan Rawan Bencana III,” ujarnya.
Lebih lanjut, HPI Banyuwangi menjadikan viralnya video tersebut sebagai bahan pertimbangan bagi pemandu wisata di Kawah Ijen. Menurutnya, selama ini visitor terlalu terfokus mengejar kejadian blue fire dibanding mengenal kekayaan lain nan dimiliki Kawah Ijen.
“Sering kali pemandu wisata lupa menjelaskan tentang sejarah Kawah Ijen, landscape sekitar, dan tanaman hewan nan ada di sekitar Kawah Ijen, lantaran terlalu konsentrasi mengejar blue fire,” tutup Andika.
5 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·