Pasti Anda sering mendengar kalimat “bukan orang Indonesia jika belum makan nasi” bukan? Ya, ungkapan memang bukan tanpa alasan, lantaran nasi sendiri sudah lama menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia.
Tak heran, banyak orang memilih untuk selalu menyimpan beras di rumah. Ada nan membeli dalam jumlah besar untuk stok, ada juga nan memilih membeli secukupnya sesuai kebutuhan. Tapi, pernah nggak sih terlintas di pikiran, sebenarnya beras bisa kedaluwarsa nggak, sih?
Apalagi jika kita membeli beras secara satuan di pasaran. Tidak seperti produk bungkusan nan mencantumkan tanggal kedaluwarsa, beras curah sering kali tidak mempunyai info tersebut. Hal ini membikin sebagian orang ragu apakah beras nan disimpan dalam waktu lama tetap kondusif untuk dikonsumsi.
Menjawab perihal tersebut, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB University, Prof. Dr. Feri Kusnandar, menjelaskan bahwa beras pada dasarnya tidak mempunyai masa kedaluwarsa. Namun, bukan berfaedah kualitasnya bakal selalu sama.
"Jadi jika kita bicara expired untuk produk nan misalkan beras itu, biasanya expired itu mengenai dengan mutu. Jadi, mutunya mulai menurun tapi itu tidak langsung mengenai dengan safety atau keamanan pangan," jelas Prof. Feri seperti dikutip dari kanal YouTube IPB TV, Jumat (1/5).
Menurutnya, semua bahan pangan bakal mengalami penurunan mutu seiring waktu penyimpanan. Penurunan ini bisa dipengaruhi oleh beragam faktor, baik dari dalam bahan itu sendiri maupun dari lingkungan penyimpanannya. Misalnya, komposisi beras, kadar air, hingga kondisi kemasan.
Secara umum, beras mempunyai kadar air nan cukup rendah, ialah di bawah 14 persen. Kondisi ini membikin beras relatif lebih tahan lama lantaran tidak mudah ditumbuhi mikroba. Meski begitu, jenis beras juga mempengaruhi daya simpannya. Beras putih, beras merah, dan beras hitam mempunyai komposisi nan berbeda, sehingga ketahanannya pun bisa berbeda.
Menurut Prof. Feri, beras nan sudah lama disimpan mungkin bakal mengalami perubahan kualitas, seperti aroma, rasa, alias tekstur, tetapi belum tentu langsung rawan saat dikonsumsi.
"Yang krusial sebetulnya kita lihat dari tanda-tanda tadi apakah misalkan berasnya, warnanya udah berubah apa belum, tengik alias tidak, alias misalkan akibat adanya pertumbuhan kutu beras itu jadi kayak serbuk alias misalkan teksturnya udah mulai lunak gitu,” jelas Prof. Feri.
Meski begitu, Prof. Feri menyarankan agar kita tetap memperhatikan kondisi beras sebelum diolah. Salah satu tanda nan paling mudah dikenali adalah munculnya kutu. Jika beras sudah berkutu, sebaiknya tidak digunakan, lantaran serangga tersebut dapat membawa kotoran alias menghasilkan unsur tertentu nan berpotensi membahayakan kesehatan.
Menurut dia, kondisi penyimpanan juga sangat krusial untuk diperhatikan. Beras nan disimpan di tempat lembap lebih mudah ditumbuhi kutu dan mengalami kerusakan. Oleh lantaran itu, krusial untuk menyimpan beras di tempat nan kering, tertutup rapat, dan mempunyai sirkulasi udara nan baik.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·