Nurhadidjah Salma(DOK PRIBADI)
MEDIA sosial sering dianggap sebagai ruang nan demokratis. Siapa pun dapat membikin konten, menyampaikan pendapat, apalagi membangun audiensnya sendiri tanpa kudu berjuntai pada media arus utama.
Sekilas, internet tampak sukses menghapus pemisah antara produsen dan konsumen informasi. Namun, benarkah setiap orang mempunyai kesempatan nan sama untuk didengar?
Di kembali linimasa nan terasa personal, algoritma bekerja menentukan info apa nan muncul, buletin mana nan lebih sering direkomendasikan, hingga bunyi siapa nan lebih mudah menjangkau publik. Akibatnya, apa nan kita anggap sebagai pilihan pribadi sering kali merupakan hasil dari proses seleksi nan tidak sepenuhnya kita sadari.
Algoritma memang dirancang untuk menyajikan konten nan dianggap paling relevan, tetapi relevan bagi siapa dan berasas kepentingan apa menjadi pertanyaan nan layak diajukan.
Internet Bukan Berarti Demokrasi Informasi
Optimisme bahwa internet bakal menghapus dominasi media rupanya tidak sepenuhnya terwujud. Edwin Baker dalam Media Concentration and Democracy: Why Ownership Matters mengingatkan bahwa internet bukan solusi otomatis atas persoalan keberagaman informasi.
Meskipun akses terhadap info menjadi lebih mudah, sejumlah mini perusahaan media tetap menguasai media nan paling banyak dibaca,
ditonton, dan didengar masyarakat. Konglomerasi media juga tetap mengendalikan sumber daya finansial nan memungkinkan mereka memproduksi buletin dalam skala besar, termasuk membiayai pengedaran konten agar menjangkau lebih banyak audiens.
Dalam situasi tersebut, algoritma tidak bekerja di ruang nan kosong. Ia mengelola info nan telah diproduksi oleh ekosistem media dengan tingkat sumber daya nan tidak seimbang.
Konten dari media besar nan mempunyai modal, jaringan distribusi, dan kekuatan merek lebih mudah memperoleh perhatian publik jika dibandingkan dengan media independen nan mempunyai keterbatasan sumber daya. Dengan demikian, kekuasaan info tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh struktur kepemilikan media.
Ketika Perhatian Menjadi Komoditas
Gillian Doyle menjelaskan bahwa media beraksi sebagai industri nan bergantung
pada perhatian audiens. Di era digital, perhatian tersebut diterjemahkan menjadi klik,
waktu menonton, dan hubungan nan berbobot ekonomi.
Algoritma kemudian memperkuat logika tersebut dengan terus merekomendasikan konten nan berpotensimempertahankan keterlibatan pengguna. Akibatnya, info nan paling sering
muncul belum tentu merupakan info nan paling krusial bagi publik, melainkan nan paling bisa menarik perhatian.
Noam Chomsky juga mengingatkan bahwa pembentukan opini publik tidak selalu berjalan melalui penyensoran secara langsung. Persetujuan publik dapat dibangun melalui proses seleksi info nan terus-menerus direproduksi sehingga langkah masyarakat memahami suatu rumor perlahan dibentuk oleh narasi nan paling dominan.
Menjadi Pengguna nan Lebih Kritis
Di tengah derasnya arus info digital, literasi media tidak cukup dimaknai sebagai keahlian membedakan kebenaran dan hoaks. Masyarakat juga perlu memahami gimana algoritma bekerja, siapa nan memproduksi informasi, serta kepentingan ekonomi nan memengaruhi distribusinya.
Dengan membaca dari beragam sumber, membandingkan perspektif pandang, dan tidak berjuntai pada satu platform alias satu media saja, kita dapat mengurangi akibat terjebak dalam ruang info nan sempit.
Pada akhirnya, algoritma memang tidak pernah betul-betul netral. Namun, nan lebih krusial untuk disadari adalah bahwa algoritma bukan satu-satunya tokoh nan membentuk langkah kita memahami dunia. Di kembali setiap rekomendasi konten terdapat struktur kepemilikan media, kepentingan ekonomi, dan logika upaya nan turut menentukan info mana nan memperoleh panggung.
Karena itu, tantangan terbesar masyarakat digital hari ini bukan sekadar mengakses informasi, melainkan memahami siapa nan mengendalikan arus info tersebut dan gimana kita
dapat tetap menjadi pembaca nan kritis di tengah derasnya narasi nan terus diproduksi.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·