Alasan Ilmuwan Sengaja Ubah Data Tinggi Gunung Everest

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Alasan Ilmuwan Sengaja Ubah Data Tinggi Gunung Everest Gunung Everest.(Dok: Wikipedia)

GUNUNG Everest, puncak tertinggi di dunia, menyimpan kisah unik di kembali sejarah pengukurannya. Pada pertengahan abad ke-19, para intelektual diketahui sengaja memanipulasi nomor ketinggian gunung tersebut agar terlihat lebih meyakinkan di mata publik.

Berdasarkan catatan sejarah, survei resmi pertama Everest pada tahun 1852 sebenarnya menghasilkan nomor rata-rata tepat di 29.000 kaki setelah dilakukan pengukuran di enam letak berbeda.

Namun, tim publikasi saat itu merasa nomor bulat tersebut bakal dianggap sebagai perkiraan kasar oleh masyarakat, bukan sebuah laporan ilmiah nan kredibel.

Manipulasi Demi Kredibilitas

Untuk menghindari kesan ketidakakuratan, tim memutuskan untuk sengaja menambahkan 2 kaki, sehingga tinggi Everest diumumkan secara resmi sebesar 29.002 kaki (8.840 meter). Angka "palsu" nan disengaja ini memperkuat sebagai ukuran resmi selama lebih dari satu abad.

Baru pada tahun 1954, Survei India melakukan pengukuran ulang dan menemukan ketinggian Everest berada di nomor 8.848 meter alias 29.028 kaki.

Kali ini, hasilnya dilaporkan apa adanya lantaran nomor nan dihasilkan tidak bulat, sehingga dianggap memenuhi standar ilmiah tanpa perlu modifikasi tambahan.

Mengapa Tinggi Everest Terus Berubah?

Perubahan nomor ketinggian Everest tidak hanya disebabkan oleh teknik pengukuran, tetapi juga aspek alam dan metodologi. Berikut adalah beberapa argumen kenapa tinggi Everest terus bergeser:

  • Aktivitas Tektonik: Pergerakan lempeng tektonik di bawah Pegunungan Himalaya terus mendorong alias menggeser posisi gunung.
  • Faktor Alam: Gempa bumi besar, seperti nan terjadi pada tahun 2015, diduga sempat menyusutkan lapisan es di puncak Everest.
  • Metode Hitung: Terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah lapisan es kudu dihitung alias hanya "ketinggian batuan asli". Tiongkok pernah mencatat nomor 8.844,43 meter lantaran hanya menghitung batuan, sementara negara lain menyertakan puncak salju.

Kontroversi ini mulai mereda setelah tim campuran Nepal-Tiongkok melakukan pengukuran ulang pasca-gempa 2015. Hasil terbaru menyepakati ketinggian Everest berada di nomor 8.848,86 meter.

Meski nomor ini sekarang menjadi standar global, para mahir meyakini bahwa tinggi sang genting bumi tetap bisa berubah di masa depan seiring dinamika bumi nan terus berlangsung. (IFLScience/Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑