Menurut Rohmat, hantaman anomali suasana dunia tersebut diproyeksikan membikin akumulasi curah hujan di 482 area musim alias mencakup 56,18 persen luas daratan Indonesia berada pada kategori bawah normal alias jauh lebih kering dari kondisi biasanya.
"Durasi musim tandus tahun ini juga diprediksi berjalan lebih panjang dari normalnya pada 437 area musim (48,77 persen daratan), dengan puncak kekeringan nan diperkirakan terjadi pada bulan Agustus mendatang melanda 369 area musim," ucap dia.
Memasuki bulan Juli, lanjut Rohmat, pergerakan tandus bakal kembali merambah 66 area musim lainnya nan meliputi Jambi bagian barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, hingga Maluku Utara
Rohmat juga menekankan selain mengantisipasi akibat El Nino tahun ini, skema mitigasi jangka panjang juga disiapkan guna menghadapi siklus tandus panjang empat tahunan nan diproyeksikan bakal melanda Indonesia pada tahun 2027 mendatang.
"Untuk itu, Kemenhut menginstruksikan pengelola sektor kehutanan untuk memprioritaskan penanaman pohon, rehabilitasi hulu sungai, sekitar mata air, dan waduk, serta menerapkan metode pembukaan alias pengelolaan lahan tanpa membakar," pungkas Rohmat.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·