Akar Konflik Antara Saudi dan Houthi Pada Perang Yaman

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Akar Konflik Antara Saudi dan Houthi Pada Perang Yaman

Ridwan Al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia dan Direktur COMPOSE.

Penulis: Ridwan al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.

ESKALASI konflik nan meninggi pada Oktober 2026 antara Houthi dan Arab Saudi dalam perang Yaman semakin mengkhawatirkan lantaran hancurnya prasarana dan jatuhnya korban jiwa dari kalangan masyarakat sipil. Mungkin banyak dari kita nan bertanya-tanya, apa sesungguhnya nan menjadi akar bentrok dari perang Yaman tersebut? Tulisan ini bakal mengulik persoalan tersebut secara singkat.

Yaman adalah sebuah potret tragis dari suatu negara ketika kegagalan politik berubah menjadi malapetaka kemanusiaan. Terletak di persimpangan Laut Merah dan Teluk Aden, perang Yaman bukan lagi sekadar pertarungan senjata antara Arab Saudi dan golongan Houthi. Ia merupakan akumulasi persoalan sejarah, ketimpangan sosial, perebutan kekuasaan, dan rivalitas geopolitik nan selama bertahun-tahun tidak menemukan jalan keluar.

Perang Yaman, memang, bukan sekadar pertarungan Sunni-Syiah alias persaingan Arab Saudi dan Iran, melainkan berakar pada kegagalan transisi politik, ketimpangan kekuasaan, perebutan legitimasi, dan intervensi regional nan mengubah krisis domestik menjadi perang berkepanjangan.

Akar persoalan Yaman, sejatinya, dapat ditelusuri jauh sebelum serangan udara koalisi ketua Arab Saudi nan bermulai pada Maret 2015. Penyatuan Yaman Utara dan Yaman Selatan pada 1990 memang sukses melahirkan satu negara, tetapi tidak serta-merta menyelesaikan ketegangan historis, ketimpangan pembangunan, dan persaingan elite politik.

Di bawah Presiden Ali Abdullah Saleh, nan berkuasa selama lebih dari tiga dekade, stabilitas politik banyak berjuntai pada jaringan patronase, loyalitas elite, dan kompromi dengan beragam golongan bersenjata. Model pemerintahan ini memang bisa mempertahankan kekuasaan, tetapi kandas membangun lembaga negara nan inklusif dan dipercaya masyarakat.

Ketika gelombang Arab Spring melanda area Timur Tengah pada 2011, Yaman turut mengalami demonstrasi besar nan menuntut perubahan politik. Saleh akhirnya menyerahkan kekuasaan pada 2012 kepada wakilnya, Abdrabbuh Mansur Hadi, melalui proses transisi nan difasilitasi negara-negara Teluk dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com
↑