Akademi Perempuan NasDem Gelar Klinik Menulis Berperspektif Feminisme Pancasila

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Akademi Perempuan NasDem Gelar Klinik Menulis Berperspektif Feminisme Pancasila Pengarah APN sekaligus Ketua DPP Partai NasDem Bidang Migran Eva Sundari.(dok.NasDem)

AKADEMI Perempuan NasDem (APN) menyelenggarakan Pra-Clinic APN Woman’s Writing Clinic: Perempuan Menulis, Agensi Strategis bertema “Feminisme Pancasila sebagai Lensa Analisa Sosial” secara daring, Jumat (16/10), pukul 14.00–16.00 WIB.

Kegiatan tersebut diikuti 100 peserta hingga selesai. Pra-Clinic merupakan tahap awal dari rangkaian program nan dilanjutkan dengan Writing Clinic pada 22 Oktober serta Post-Clinic pada 29 Oktober–19 November 2026.

Kegiatan dibuka oleh Amelia Anggraeni, Anggota Komisi I DPR RI sekaligus Ketua DPP Partai NasDem Bidang Perempuan dan Anak. Eva Sundari, Ketua DPP Partai NasDem Bidang Migran sekaligus Pengarah APN, menjadi narasumber. Diskusi dimoderatori Arimbi Heroeputri, Komisioner Komnas Perempuan periode 2007–2014.

Amelia Anggraini mendorong para peserta untuk serius mengikuti 3 rangkaian aktivitas sehingga betul-betul menghasilkan tulisan berbobot nan bisa diterbitkan media. “Ayo munculkan keberanian untuk take action, dan tulisan adalah tindakan nyata untuk mendorong terjadinya perubahan nan memihak perempuan,” kata Amelia menyemangati peserta. 

Dalam sesi utama, peserta membahas Feminisme Pancasila sebagai pendekatan untuk menganalisis ketimpangan, relasi kuasa, dan persoalan keadilan sosial. Pembahasan mencakup rumor beban kerja perawatan, akses ekonomi, kekerasan berbasis gender, serta halangan partisipasi perempuan. “Kita perlu lensa kacamata nan bening untuk menangkap realita nan utuh ialah sesuai pengalaman perempuan. Hanya saja, tanpa kesadaran lensa baca apapun tidak bakal berguna. Maka, munculkan kesadaran sehingga muncul dorongan untuk membikin perubahan melalui tulisan,” kata Eva Sundari dalam paparannya. 

Peserta juga diajak menghubungkan pengalaman sehari-hari dengan norma sosial, kebijakan, institusi, dan pengedaran sumber daya. Pendekatan tersebut digunakan untuk menyusun pendapat berbasis kebenaran dan info dalam corak tulisan.

Panitia menyampaikan bahwa sebagian calon peserta tidak dapat berasosiasi lantaran kapabilitas ruang Zoom terbatas hingga 100 peserta. Kendala tersebut menjadi bahan pertimbangan untuk penyelenggaraan aktivitas berikutnya.

Pada Writing Clinic, peserta bakal mempelajari penulisan opini dan op-ed, penyusunan argumen, serta penggunaan kebenaran dan data. Tahap Post-Clinic bakal mencakup penyuntingan dan finalisasi tulisan.

Di kembali keterbatasan kapabilitas ruang Zoom, antusiasme peserta rupanya menjangkau lebih banyak orang. Sejumlah peserta dari kantor-kantor wilayah mengikuti aktivitas secara berkelompok melalui satu akun, apalagi menyelenggarakan nonton bareng (nobar). Dalam tangkapan layar kegiatan, terlihat beberapa golongan beranggotakan tujuh hingga sepuluh orang mengikuti sesi melalui satu perangkat.

Praktik ini menunjukkan inisiatif peserta untuk memperluas akses belajar bersama. Dengan demikian, jangkauan aktivitas tidak hanya tercermin dari jumlah akun nan masuk ke Zoom, tetapi juga dari orang-orang nan berkumpul dan belajar berbareng di kembali setiap akun. Jumlah keseluruhan peserta nan terjangkau tetap perlu dihitung lebih lanjut. (P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑