Airlangga Bantah RI Jadi Jalur Transshipment China ke AS

Sedang Trending 46 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membantah tuduhan nan mengatakan Indonesia menjadi salah satu jalur transshipment alias pengalihan rute perdagangan produk China ke Amerika Serikat (AS).

Tuduhan tersebut muncul dalam laporan Gedung Putih berjudul The Great Transshipment Scam, nan menyoroti dugaan jaringan shadow transshipment global. Indonesia disebut berbareng sejumlah negara lain, seperti Brasil, Malaysia, Thailand, Turki, dan Vietnam.

Airlangga menegaskan pemerintah Indonesia tidak pernah terlibat maupun diberitahu mengenai laporan tersebut. Ia juga membantah dugaan bahwa industri manufaktur Indonesia terintegrasi dengan China untuk kemudian mengekspor produk ke AS.

"Indonesia tidak pernah terlibat ataupun diberitahu mengenai adanya studi ini. Indonesia dituduh berbareng Brasil, Malaysia, Thailand, Turki, Vietnam nan masuk di dalam dunia untuk transshipment. Kami katakan bahwa tuduhan tersebut tidak benar," kata Airlangga dalam konvensi pers di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Menurut Airlangga, dalam laporan tersebut Indonesia ditempatkan pada tier 2. Posisi ini mengasumsikan Indonesia mempunyai industri manufaktur nan terintegrasi dengan China dan kemudian mengekspor produknya ke AS, terutama untuk produk plastik dan turunannya.

Airlangga pun menyoroti penyebutan area industri Batam dan Bekasi dalam laporan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa area industri di kedua wilayah tersebut telah berkembang sejak dasawarsa 1990-an dan kebanyakan aktivitasnya merupakan industri manufaktur.

"Dalam laporan nan saya baca sekilas, Jaringan akses Batam dan Bekasi. Kita dapat menyatakan bahwa area industri Batam dan Bekasi itu sudah ada sejak tahun 90-an dan industri nan ada di sana kebanyakan industri manufaktur," ujarnya.

Bahan Baku Plastik RI dari Dalam Negeri

Airlangga juga membantah dugaan bahwa industri plastik dan packaging di Indonesia berjuntai pada bahan baku dari negara lain, khususnya China.

Menurutnya, sebagian besar perusahaan nan bergerak di industri plastic packaging merupakan perusahaan nasional. Selain itu, Indonesia telah mempunyai sumber bahan baku plastik dari industri petrokimia dalam negeri.

"Kalau industri berbasis plastik packaging-nya itu seluruhnya adalah sebagian besar perusahaan nasional. Dan untuk bahan baku plastik kita sudah punya bahan baku sendiri nan diproduksi oleh Chandra Asri dan apalagi nan terakhir oleh Lotte Chemicals," jelasnya.

Karena itu, Airlangga menilai tidak tepat jika aktivitas industri tersebut dikategorikan sebagai transshipment produk dari negara lain untuk kemudian dikirim ke AS.

Ia mengatakan produk plastic packaging nan diproduksi di Indonesia sebagian besar digunakan untuk kebutuhan dalam negeri alias diekspor ke negara-negara lain di kawasan, bukan ke AS.

"Jadi tidak betul ini menggunakan transhipment dari negara lain untuk memproses. Dan kedua, plastik packaging-nya sebagian besar digunakan sendiri di dalam negeri ataupun diekspor ke sekitaran, tetapi bukan ke Amerika Serikat," tegas Airlangga.

Airlangga menilai pemerintah dan pelaku upaya Indonesia tidak perlu mengkhawatirkan laporan tersebut. Ia menegaskan studi nan menjadi dasar tuduhan tersebut tetap menggunakan sejumlah dugaan alias asumsi.

"Jadi kita tidak perlu cemas dengan studi. Namun kami juga tegaskan bahwa studi ini merupakan studi nan berasas dugaan alias asumsi. Jadi apa nan terjadi sebetulnya tidak seperti apa nan mereka asumsikan," pungkasnya.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News