Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan Indonesia tidak terlibat dalam praktik transshipment alias pengiriman peralatan melalui negara ketiga nan dituding dilakukan eksportir China untuk menghindari tarif impor Amerika Serikat (AS).
Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga merespons laporan berjudul The Great Transshipment Scam nan dirilis di AS pada Kamis (13/8).
Laporan tersebut menuding Indonesia berbareng Brazil, Malaysia, Thailand, Turki, dan Vietnam jadi 'tempat transit' barang-barang China nan tujuannya menghindari tarif tinggi Amerika sekitar 50%.
Modus nan dituduhkan ialah peralatan separuh jadi dikirim dari China ke negara lain seperti Indonesia. Di negara itu, peralatan tersebut dikemas ulang, dilabeli ulang, alias diproses ringan baru dikirim ke AS. Sehingga peralatan itu "berlabel" buatan negara ketiga, bukan China, sehingga tarifnya jadi lebih murah.
“Tanggapan dari Indonesia terhadap studi nan diluncurkan itu, Shadow Transshipment Network oleh lembaga nan di Amerika. Pertama, Indonesia tidak pernah terlibat ataupun diberitahu mengenai adanya studi ini,” kata Airlangga di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (20/8).
“Kedua, Indonesia dituduh berbareng Brazil, Malaysia, Thailand, Turki, Vietnam nan masuk di dalam dunia untuk transshipment. Kami katakan bahwa tuduhan tersebut tidak benar,” imbuhnya.
Dalam laporan tersebut Indonesia ditempatkan pada kategori tier 2 sebagai negara dengan manufaktur nan terintegrasi dengan China dan melakukan ekspor ke AS, terutama untuk produk plastik dan turunannya.
Namun, dia membantah dugaan tersebut. Airlangga mencontohkan area industri di Batam dan Bekasi nan disebut dalam laporan telah berkembang sejak 1990-an.
“Dalam laporan nan saya baca sekilas, [disebut] jaringan akses Batam dan Bekasi. Kita dapat menyatakan bahwa area industri Batam dan Bekasi itu sudah ada sejak tahun 90-an,” jelasnya.
Bahan Baku Plastik dari Dalam Negeri
Airlangga menjelaskan industri nan berada di area tersebut kebanyakan merupakan industri manufaktur. Mengenai industri berbasis plastik, kata Airlangga, sebagian besar perusahaan nan memproduksi bungkusan merupakan perusahaan nasional.
Dia juga menegaskan bahan baku plastik untuk industri tersebut tersedia dari dalam negeri, salah satunya diproduksi oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk dan Lotte Chemical.
“Jadi tidak betul ini menggunakan transshipment dari negara lain untuk memproses. Dan kedua, plastik packaging-nya sebagian besar digunakan sendiri di dalam negeri ataupun diekspor ke sekitaran, tetapi bukan ke Amerika Serikat,” terangnya.
Menurut dia, produk plastic packaging nan dihasilkan industri tersebut sebagian besar digunakan untuk kebutuhan dalam negeri maupun diekspor ke negara-negara sekitar Indonesia.
Airlangga meminta agar laporan tersebut tidak menjadi kekhawatiran bagi Indonesia. Dia menilai tudingan dalam studi tersebut tidak menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Jadi kita tidak perlu cemas dengan studi, namun kami juga tegaskan bahwa studi ini merupakan studi nan berasas dugaan alias asumsi. Jadi apa nan terjadi sebetulnya tidak seperti apa nan mereka asumsikan,” tutupnya.
41 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·