Agenda Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur dan Soekarno bukan Seremonial Belaka

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Agenda Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur dan Soekarno bukan Seremonial Belaka Kapolri Listyo Sigit Prabowo melaksanakan kunjungan di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.(Antara)

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan rangkaian peziarahan ke makam sejumlah tokoh krusial dan para mantan Presiden Republik Indonesia. Kunjungan religi dan kebangsaan ini mencakup makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, hingga Taman Makam Pahlawan (TMP).

Koordinator Indonesia Cerah, Febri Wahyuni Sabran menilai langkah Listyo tersebut bukan sekadar kunjungan seremonial biasa. Listyo memaknai peziarahan ini sebagai perjalanan jiwa nan mendalam untuk meresapi nilai-nilai luhur kepemimpinan nan diwariskan oleh para pendahulu bangsa. Febri menilai agenda tersebut sebagai gestur krusial dalam memperkuat hubungan moral pemimpin masa sekarang dengan sejarah perjuangan bangsa.

"Belajar dari sejarah bukan hanya soal mengenal alur sejarah, tetapi gimana kita menghormati dan meneladani kebajikan-kebajikan nan mereka wariskan. Dan itulah nan dilakukan Kapolri Listyo Sigit Prabowo," kata Febri Wahyuni, melalui keterangannya, Senin (22/6).

Menurut Febri, penghormatan terhadap sejarah dan para tokoh bangsa semestinya menjadi bagian integral dari karakter seorang pemimpin sejati, bukan sekadar formalitas alias pencitraan semata. Rangkaian makam nan dikunjungi Listyo dinilai merepresentasikan fondasi nilai nan sangat kaya bagi arah kepemimpinan nasional lantaran setiap tokoh mewakili karakter perjuangan nan berbeda.

Melalui peziarahan ke makam KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, pemimpin dapat menimba prinsip kepemimpinan nan merakyat, toleran, serta kokoh dalam menjaga kewenangan asasi manusia dan keberagaman Indonesia. Sementara saat mendatangi makam Presiden Soekarno, prinsip nan digali adalah api semangat nasionalisme, persatuan, dan visi besar mengenai kedaulatan negara.

Adapun kunjungan ke makam Presiden Soeharto memberikan pelajaran krusial mengenai pengelolaan stabilitas keamanan serta roda pertumbuhan ekonomi nasional. Terakhir, peziarahan ke Taman Makam Pahlawan menjadi corak takzim dan penghormatan paling tinggi terhadap pengorbanan para pejuang nan telah gugur demi kemerdekaan tanah air.

Febri Wahyunicmenambahkan, di tengah tantangan era nan semakin kompleks, Indonesia memerlukan figur pemimpin nan tidak melupakan akar sejarahnya. Langkah taktis nan ditunjukkan Kapolri dengan mendatangi langsung petilasan para pemimpin terdahulu diharapkan bisa menjadi preseden baik nan dicontoh oleh pejabat publik lainnya di seluruh Indonesia.

"Dari Presiden Abdurrahman Wahid kita belajar tentang simbol pluralisme, toleransi, dan kepemimpinan nan merakyat. Gus Dur dikenang sebagai pemimpin nan menjunjung tinggi kewenangan asasi manusia dan keberagaman Indonesia. Dari Presiden Soekarno kita menimba semangat nasionalisme, persatuan, dan visi besar tentang Indonesia nan berdaulat dan bermartabat. Dari Presiden Soeharto kita belajar tentang stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia," pungkasnya. (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia