Agar Keselamatan Tak Terancam, Perhatikan Do's and Don'ts Sebelum Facelif

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi Facelift. Foto: Quality Stock Arts/Shutterstock

Saat ini, facelift jadi tindakan bedah estetik nan cukup diminati banyak orang, khususnya perempuan. Sebab, tindakan ini dapat membikin wajah awet muda lantaran bisa menghilangkan keriput pada kulit.

“Secara umum tindakan facelift berfungsi untuk menghilangkan keriput pada area wajah, dahi dan leher. (Caranya) kita memanipulasi otot nan disebut sebagai smash,” ujar Dokter Spesialis Bedah Plastik, Rekonstruksi, dan Estetik dr. Alexander Perkasa Hendropriyono, Sp. BP-RE, M.Ked.Klin.

Ia menjelaskan jika penuaan pada wajah, dahi, dan leher tidak hanya terjadi pada area luar, melainkan pada otot. Oleh lantaran itu, tindakan facelift ini bakal memanipulasi otot untuk menghilangkan keriput.

Namun facelift tidak bisa dilakukan sembarangan, dr. Alex menjelaskan bahwa tindakan ini termasuk operasi besar dengan akibat cukup banyak, sehingga kudu dilakukan oleh dokter nan kompeten.

“Di wajah itu banyak pembuluh darah dan jalur saraf, sehingga kudu dilakukan dengan hati-hati serta memahami betul soal anatomi wajah—agar tidak mencederai pasien,” ujar dr. Alex.

Lalu, apa saja perihal nan perlu diperhatikan sebelum melakukan facelift? Mari simak tulisan ini sampai selesai, Ladies.

Do's sebelum memutuskan untuk melakukan facelift

Ilustrasi Facelift. Foto: Dragon Images/Shutterstock

1. Pastikan dilakukan di klinik alias rumah sakit nan menjamin keselamatan

Dokter Spesialis Bedah Plastik, Rekonstruksi, dan Estetik, dr. Ide Bagoes Insani, M.M., MARS, Sp.BP-RE mengingatkan agar Ladies cek klinik alias rumah sakit sebelum melakukan tindakan bedah estetika. Pastikan klinik alias rumah sakit nan dipilih telah mempunyai izin dan menjamin keselamatan jika terjadi komplikasi.

“Kalau ada akomodasi kesehatan nan memberikan agunan keamanan nan baik, kita kudu pilih itu,” ujar dr. Ide.

2. Cek master lewat website KKI dan PERAPI

Selanjutnya, dr. Ide juga menyarankan untuk cek status kompetensi master nan bakal menangani tindakan bedah estetik. Caranya mudah, Ladies dapat dicek melalui website Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) alias Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Indonesia (PERAPI).

3. Perhatikan kondisi kesehatan bentuk dan mental

Kesehatan bentuk dan mental juga kudu diperhatikan sebelum tindakan bedah estetik menurut dr. Alex. Ia mengingatkan agar calon pasien dalam kondisi nan fit. Oleh lantaran itu dr. Alex menekankan pentingnya konsultasi dengan dokter. Hal ini bermaksud untuk meminimalkan akibat dari tindak bedah estetik.

Don'ts sebelum memutuskan untuk melakukan facelift

Ilustrasi Facelift. Foto: WOSUNAN/Shutterstock

1. Jangan tergiur nilai murah

Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik, dr. Nilam Permatasari, BMEDSC, Sp.BP-RE mengatakan jika tindakan facelift cukup beragam tergantung masing-masing klinik dan rumah sakit. Meski demikian, dia menyarankan agar Ladies tidak tergiur nilai murah.

“Jangan sampai tergiur dengan nilai nan terlampau murah, itu perlu dicurigai soal bahan-bahan nan dipakai, apakah sesuai medis alias tidak? Sekali lagi jika misalnya mau cek, periksa status dokter—pastikan bedah plastik nan kompeten,” ujar dr. Nilam.

2. Jangan lakukan saat emosi

Keputusan facelift tidak dapat diambil secara gegabah. Hal ini dijelaskan oleh dr. Alex nan mengatakan jika calon pasien kudu dalam kondisi tenang dan psikologis nan sehat.

“Jangan, operasi saat emosi, hanya lantaran baru putus dengan pacar lampau mau operasi. Jangan—itu emosi labil. Harus tenang, calm, rileks, stabil, dan menerima diri sendiri,” ujarnya.

3. Jangan terlalu percaya dengan testimoni di media sosial

Salah satu korban praktik medis terlarangan oleh eks finalis Puteri Indonesia, Jeni Rahmadial Fitri berinisial NS mengaku percaya dengan testimoni di media sosial.

Ia baru menyadari bahwa Jeni bukan master setelah menjalani tindakan facelift. Oleh lantaran itu, dr. Nilam menekankan pentingnya mengecek kredibilitas master sebelum melakukan bedah estetika, serta memastikan tindakan tersebut dilakukan oleh master ahli nan kompeten.

“Jadi memang untuk operasi facelift, eyebrow lift secara general untuk operasi-operasi bedah plastik, namanya tindakan invasif, pasti berpotensi untuk ada komplikasi. Makanya bukan masalah siapa nan bisa ngerjain, tapi siapa nan pada akhirnya jika ada komplikasi, bisa memperbaiki,” ujarnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan