Ada Risiko di Balik Operasi Plastik Facelift, Ini Kata Dokter Bedah Estetika

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi operasi plastik. Foto: Shutterstock

Salah satu jenis operasi plastik nan umum dilakukan wanita adalah facelift alias rhytidectomy. Prosedur ini dilakukan untuk mencapai tampilan wajah nan lebih segar, kencang, dan bebas dari kerutan. Meski terkesan sederhana, facelift merupakan operasi nan rumit dan berisiko.

Hal ini dijelaskan oleh Dokter Spesialis Bedah Plastik, Rekonstruksi, dan Estetik dr. Alexander Perkasa Hendropriyono, Sp. B.P.R.E., M.Ked.Klin. Ketika diwawancarai oleh kumparanWOMAN Jumat (1/5) dr. Alex menyebut bahwa facelift adalah salah satu operasi paling besar dalam bagian bedah plastik.

“Ini merupakan salah satu operasi terbesar, terpenting nan ada di bagian bedah plastik. Jadi, untuk facelift, akibat pertama adalah di wajah itu banyak aliran darah, banyak pembuluh darah, banyak jalur saraf alias kami sebut sebagai nerve,” jelas Alex pada Jumat (1/5).

Ilustrasi operasi plastik. Foto: Shutterstock

“Jadi kudu sangat hati-hati, kudu sangat menguasai anatomi wajah agar tidak mencederai, melukai saraf alias pembuluh darah pada wajah,” imbuh master di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) ini.

Facelift meliputi prosedur insisi (penyayatan) kulit di bagian depan telinga, bagian belakang telinga, dan garis rambut, pemotongan kulit dan lemak, hingga manipulasi otot (smas). Dalam prosedur facelift, smas dan kulit diperkencang dan bagian kulit nan berlebih pun dibuang.

Alex menjelaskan, kulit wajah berkarakter sangat sensitif dan mempunyai banyak pembuluh darah. Jika jaringan kulit, lemak, dan otot tidak dikelola secara baik, salah satu masalah nan bisa terjadi adalah nekrosis kulit alias flap necrosis. Ini adalah kondisi kematian kulit di area wajah nan ditangani.

Lalu, ada juga akibat terjadinya perdarahan lantaran banyaknya aliran darah di wajah, leher, dan dahi. Selain itu, akibat lainnya adalah darah kaku alias hematoma.

Ilustrasi operasi plastik. Foto: Shutterstock

“Nah, ini akibat serius nan kudu kita waspadai dan kudu kita tangani. Itu akibat facelift nan kita pelajari selama kita pendidikan bedah plastik dan bedah plastik estetik,” papar Alex.

Selain itu, tulisan ilmiah nan diterbitkan di jurnal Facial Plastic Surgery pada 2017 mengungkap, akibat lainnya adalah memar, bengkak, jejak luka keloid, cedera saraf, infeksi, dan rasa tidak nyaman.

Karena punya akibat nan cukup tinggi, dr. Alex pun menekankan pentingnya calon pasien memilih letak prosedur dan master mahir nan tepat. Selain itu, dia juga menyorot pentingnya konsultasi dengan master ahli sebelum operasi dilakukan.

“Pasien sendiri kudu dalam kondisi nan baik dan fit. Inilah pentingnya konsultasi sebelum operasi, konsultasi dengan master ahli. Kita memandang apakah pasien ada aspek akibat tertentu, apakah ada akibat nan membikin pasien ini mungkin kurang optimal untuk melakukan operasi estetik,” jelasnya.

Eks finalis Puteri Indonesia 2024 Jeni Rahmadial Fitri. Foto: Dok. Istimewa

Beberapa waktu terakhir prosedur facelift tengah menjadi sorotan usai eks finalis Puteri Indonesia Riau 2024, Jeni Rahmadial Fitri, ditetapkan sebagai tersangka akibat kasus praktik kecantikan terlarangan di Pekanbaru.

Jeni dilaporkan ke Polda Riau pada 25 November 2025 oleh korban berinisial NS dan AA. Mereka melaporkan Jeni usai mengalami masalah kesehatan pascaoperasi plastik di klinik Jeni, Arauna Beauty Pekanbaru. NS menjalani prosedur facelift dan brow lift, sementara AA melakukan operasi bibir alias lip surgery.

Prosedur facelift nan dijalani NS berujung pada komplikasi seperti perdarahan hebat, jangkitan serius di wajah dan kepala, luka bernanah, dan pembengkakan serius.

NS pun disebut mengalami abnormal permanen berupa luka memanjang di area alis serta jejak luka di kulit kepala nan membikin rambut tak bisa tumbuh kembali. Sementara itu, AA menyebut dirinya mengalami abnormal permanen usai menjalani dua kali prosedur operasi bibir.

Kuasa norma korban, Markus Harianja dan Al Qudri Tambusai, nan melaporkan Eks finalis Puteri Indonesia 2024 Jeni Rahmadial Fitri lantaran melakukan praktik operasi kecantikan terlarangan di Klinik Arauna Beauty, Pekanbaru, Riau. Foto: Dok. Istimewa

Operasi plastik nan dilakukan oleh Jeni berkarakter ilegal, lantaran dia bukan master dengan latar belakang pendidikan medis. Akibat operasi kecantikan terlarangan ini, Jeni ditangkap dan ditahan oleh Polda Riau. Kepolisian bakal melakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai kasus ini.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan