9 Praktik Persalinan Ini Tak Lagi Direkomendasikan WHO

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Ilustrasi ibu menjelang persalinan. Foto: Shutter Stock

Moms setiap tahunnya, rekomendasi mengenai persalinan terus diperbarui mengikuti perkembangan bukti ilmiah. Beberapa tindakan nan dulu dianggap sebagai prosedur rutin saat melahirkan, sekarang sudah tidak lagi direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk dilakukan pada semua ibu.

Tapi bukan berfaedah tindakan tersebut dilarang sepenuhnya, hanya saja diberikan jika memang terdapat indikasi medis tertentu. Tujuannya agar proses persalinan menjadi lebih aman, nyaman, serta mengurangi tindakan nan tidak diperlukan bagi ibu maupun bayi.

Menurut master kandungan dan kebidanan, dr. Achmad Mediana, Sp.OG beberapa praktik ini tidak lagi digunakan di Indonesia.

Beberapa Praktik Persalinan nan Sudah Tidak Direkomendasikan

Ilustrasi ibu melahirkan. Foto: chalermphon_tiam/Shutterstock

1. Manuver Kristeller alias Mendorong Perut Ibu Saat Persalinan

Salah satu tindakan nan dulu cukup sering dilakukan adalah memberikan tekanan kuat pada bagian atas perut ibu untuk membantu bayi lahir lebih cepat. Tindakan nan dikenal sebagai manuver Kristeller ini sekarang tidak lagi digunakan secara rutin lantaran berisiko menimbulkan komplikasi.

"Manuver Kristeller bisa menyebabkan robekan rahim, lepasnya plasenta, cedera pada ibu, hingga membikin lilitan tali pusat pada bayi semakin erat," kata dr. Achmad pada kumparanMOM, Kamis (9/7).

2. Minum Air Rendaman Rumput Fatimah

Di beberapa daerah, rumput Fatimah dipercaya dapat memicu kontraksi agar persalinan berjalan lebih cepat. Namun, praktik ini tidak dianjurkan.

Menurut dr. Achmad, rumput Fatimah dapat menyebabkan kontraksi berlebihan, tetapi pembukaan jalan lahir tidak bertambah (stuck). Kondisi ini justru dapat membahayakan ibu dan janin.

3. Enema Sebelum Persalinan

Dulu, ibu mengandung kerap diberikan enema alias pencahar sebelum melahirkan agar usus kosong.

Kini, WHO tidak lagi merekomendasikan tindakan ini secara rutin lantaran belum terbukti dapat mempercepat persalinan maupun mencegah infeksi. Enema hanya dilakukan andaikan memang ada kebutuhan medis tertentu.

4. Pemasangan Infus dan CTG Terus-Menerus

Tidak semua ibu nan menjalani persalinan normal memerlukan infus maupun pemantauan degub jantung janin (CTG) secara terus-menerus.

WHO menganjurkan ibu tetap dapat bergerak bebas selama proses persalinan. Infus diberikan jika terdapat indikasi, seperti dehidrasi alias kondisi medis tertentu. Sementara itu, pemantauan CTG terus-menerus pada kehamilan akibat rendah belum terbukti meningkatkan luaran persalinan.

5. Pemeriksaan Dalam Terlalu Sering

Pemeriksaan pembukaan serviks memang krusial untuk menilai kemajuan persalinan. Namun, pemeriksaan nan terlalu sering dapat membikin ibu merasa tidak nyaman, meningkatkan akibat infeksi, hingga menimbulkan trauma.

WHO merekomendasikan pemeriksaan dilakukan sekitar setiap empat jam alias disesuaikan dengan kondisi klinis ibu.

6. Larangan Makan, Minum, dan Harus Telentang

Ibu nan menjalani persalinan pervaginam umumnya tetap diperbolehkan mengonsumsi makanan ringan dan minum agar daya tetap terjaga serta terhindar dari dehidrasi.

Selain itu, ibu juga tidak kudu terus berada dalam posisi telentang. WHO mendukung ibu memilih posisi nan paling nyaman selama persalinan, seperti berdiri, jongkok, miring, alias merangkak.

7. Dipaksa Mengejan dan Episiotomi Rutin

Ibu tidak perlu dipaksa mengejan sebelum tubuh memberikan dorongan alami untuk melahirkan.

WHO juga tidak lagi menyarankan episiotomi alias gunting jalan lahir dilakukan secara rutin pada semua persalinan. Tindakan tersebut hanya dilakukan jika memang terdapat indikasi medis.

8. Induksi Hanya lantaran Sudah Lewat HPL

Tanggal perkiraan lahir (HPL) bukan satu-satunya dasar untuk melakukan induksi persalinan.

Keputusan induksi perlu mempertimbangkan kondisi ibu, janin, usia kehamilan, serta hasil pemeriksaan master alias perawat sehingga dilakukan berasas kebutuhan medis, bukan semata-mata lantaran melewati HPL.

9. Bayi Langsung Dipisahkan dari Ibu

Apabila kondisi ibu dan bayi stabil, WHO menganjurkan kontak kulit ke kulit (skin-to-skin contact) setidaknya selama 60 menit pertama setelah lahir.

Kontak ini membantu menjaga suhu tubuh bayi, mendukung keberhasilan menyusui, sekaligus memperkuat ikatan emosional antara ibu dan bayi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan