Gerbong kereta LRT Jabodebek menjadi kelas melangkah bagi siswa disabilitas untuk belajar menjaga kesehatan gigi dan mulut.(Dok. MI)
SEBANYAK 50 siswa penyandang disabilitas mengikuti edukasi kesehatan gigi dan mulut di dalam rangkaian LRT Jabodebek saat perjalanan dari Stasiun Halim menuju Stasiun Jatimulya, Senin (28/7).
Kegiatan ini digelar dalam rangka Hari Anak Nasional 2026 dan menjadikan transportasi publik sebagai ruang belajar pengganti bagi anak-anak.
Para peserta nan berasal dari SLB B Negeri 11 Jakarta, SLB B Sekolah Pangudi Luhur, SLB B Negeri 3 Jakarta, dan SLB B Santi Rama Fatmawati Jakarta mendapatkan materi kesehatan gigi sekaligus praktik menyikat gigi nan betul menggunakan model alias phantom gigi.
Edukasi dilakukan secara interaktif di dalam perjalanan, dengan pendampingan master gigi ahli kedokteran gigi anak, Ambar Puspitasari, berbareng master gigi fungsional LRT Jabodebek, Dini Larasati.
Menurut Ambar, metode pembelajaran berbasis pengalaman dapat membantu anak, termasuk penyandang disabilitas, lebih mudah memahami materi kesehatan.
“Edukasi kesehatan gigi dan mulut tidak selalu kudu dilakukan di ruang kelas. Transportasi publik juga bisa menjadi media belajar nan interaktif dan mudah dipahami anak,” ujar Ambar.
Selain praktik menyikat gigi, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai kebiasaan menjaga kesehatan gigi, seperti menyikat gigi dua kali sehari setelah sarapan dan sebelum tidur, membatasi makanan manis dan lengket, mengonsumsi makanan bergizi, serta memeriksakan gigi secara rutin setiap enam bulan.
Usai perjalanan dengan LRT Jabodebek, aktivitas dilanjutkan dengan sesi edukasi daring berbareng pengajar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya, ialah Diena Fuadiyah, Neny Roeswahjuni, Edina Hartami, dan Amaliyah Nur Irianti.
Dalam sesi tersebut, para narasumber menjelaskan penyebab gigi berlubang alias karies, nan dipicu oleh konsumsi makanan manis dan lengket, kuman di dalam mulut, kondisi struktur gigi, serta sisa makanan nan tidak segera dibersihkan.
Mereka juga memaparkan kebiasaan nan dapat memengaruhi pertumbuhan gigi, seperti mengisap jempol, menggigit bibir alias kuku, bernapas melalui mulut, hingga bruksisme alias kebiasaan menggemeretakkan gigi saat tidur.
Kebiasaan tersebut dapat berakibat pada susunan gigi, corak rahang, hingga menimbulkan gangguan pada sendi rahang.
Tenaga medis menegaskan, kesehatan gigi dan mulut berkedudukan krusial dalam tumbuh kembang anak lantaran memengaruhi keahlian mengunyah dan penyerapan nutrisi.
Kegiatan ini merupakan kerjasama antara tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, sekolah luar biasa, dan pengelola transportasi publik. Dalam aktivitas ini, LRT Jabodebek tidak hanya berfaedah sebagai moda transportasi, tetapi juga menjadi ruang belajar inklusif bagi anak-anak.
Kegiatan tersebut digelar dalam rangka Hari Anak Nasional 2026 dengan tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·