Ilustrasi(Antara)
PADA perdagangan sore ini, Jumat (17/7), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 65 poin di level Rp17.921 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.986 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pada perdagangan Senin (20/7) mendatang mata duit rupiah diprediksi naik turun namun ditutup menguat di rentang Rp17.870- Rp17.930 per dolar AS.
"Sedangkan dalam perdagangan sepekan di level Rp17.750-Rp18.050 per dolar AS," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (17/7).
Penguatan rupiah terjadi di tengah gelombang serangan AS lainnya terhadap sasaran Iran pada Kamis (16/7), sehari setelah serangan merusak sebuah kapal tanker minyak di dekat terminal ekspor utama Iran.
"Permusuhan nan diperbarui telah memperpanjang bentrok Timur Tengah hingga bulan kelima, menjaga nilai minyak mentah tetap tinggi dan menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa biaya daya nan lebih tinggi dapat memicu kembali inflasi," papar Ibrahim.
Harga minyak nan lebih tinggi berisiko mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve dengan meningkatkan kemungkinan bahwa inflasi tetap di atas target.
Di sisi domestik, Bank Indonesia (BI) merilis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) periode kuartal II-2026. Aktivitas bumi upaya terpantau meningkat. BI melaporkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II-2026 berada di 12,97%, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya ialah 10,11%.
"Meningkatnya aktivitas upaya tersebut didorong oleh kenaikan keahlian kebanyakan Lapangan Usaha (LU) utama, antara lain LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Konstruksi, dan LU Pertambangan dan Penggalian sejalan dengan aktivitas usahanya, serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sejalan dengan permintaan terjaga pada rangkaian periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan high season liburan sekolah pada triwulan II-2026," paparnya.
Sejalan dengan itu, kapabilitas produksi terpakai pada kuartal II-2026 tercatat sebesar 73,8%. Angka itu lebih tinggi daripada realisasi kuartal sebelumnya nan sebesar 73,33%.
Untuk kuartal III-2026, kata Ibrahim, responden memperkirakan aktivitas bumi upaya sedikit melambat dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) di 11,75%.
"Kinerja lapangan upaya nan diperkirakan meningkat adalah LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan Besar dan Eceran, serta Reparasi Mobil dan Motor sejalan dengan prakiraan terjaganya permintaan masyarakat, serta LU Konstruksi seiring dengan berlanjutnya pengerjaan sejumlah proyek pemerintah dan swasta," ungkap Ibrahim.
"Selain itu, keahlian aktivitas upaya pada LU Pertambangan dan Penggalian juga diprakirakan meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan curah hujan sehingga mendorong kenaikan aktivitas pertambangan," imbuhnya.
Dalam survei lain, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI) mencatatkan keahlian industri pengolahan berada di level 51,43% pada kuartal II/2026, lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 52,03%.
"BI mencatat bahwa PMI BI itu didorong oleh ekspansi (>50%) pada beberapa komponen, seperti Volume Produksi (53,81%), Volume Persediaan Barang Jadi (53,00%), serta Volume Total Pesanan (52,77%)," pungkasnya. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·