112 Siswa Terpapar Radikalisme dari Medsos dan Game Online

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
112 Siswa Terpapar Radikalisme dari Medsos dan Game Online ilustrasi(Antara)

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat sekitar 112 siswa di 26 provinsi telah terpapar mengerti radikalisme melalui media sosial (medsos) dan game online, dengan rata-rata usia 13 tahun. Sementara itu Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), menyebut penyebaran mengerti radikal nan masif di ruang digital terjadi di platform medsos, game online dengan fitur obrolan pribadi di dalamnya, dan platform digital lainnya. 

"Fenomena radikalisme, ekstremisme berbasis kekerasan, dan propaganda intoleransi di ruang digital menjadi ancaman serius bagi anak. Konten radikalisme masuk melalui pendekatan emosional, organisasi digital tertutup nan eksklusif, hingga keahlian memanfaatkan algoritma media sosial nan dapat memperluas paparan terhadap anak," kata Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kemen PPPA, Titi Eko Rahayu dalam keterangannya, Kamis (28/5).

Titi menyebut akibat penggunaan media sosial, platform video, game online, dan aplikasi percakapan membikin anak semakin rentan terpapar ujaran kebencian, rayuan kekerasan, dan mengerti radikal. 

Namun, upaya perlindungan anak tidak cukup hanya dengan pemblokiran konten alias penegakan hukum, tetapi juga kudu diimbangi dengan penguatan ketahanan family dan peningkatan kapabilitas pendampingan terhadap anak.

“Orang tua dan lingkungan sekitar mempunyai peran krusial dalam membangun ruang kondusif bagi anak. Karena itu, edukasi kepada family mengenai pola pengawasan dan komunikasi nan sehat di ruang digital juga perlu terus diperkuat,” ungkap Titi.

Kemen PPPA sudah sering melakukan edukasi melalui sosialisasi, advokasi, training penemuan awal atas mengerti radikal bagi orangtua, guru, dan anak, tetapi tetap perlu penyebaran nan lebih masif lagi.

“Anak-anak saat ini hidup sangat dekat dengan ruang digital. Karena itu, pendekatan perlindungan juga kudu mengikuti perkembangan pola hubungan mereka di bumi maya. Perlindungan anak di ruang digital tidak bisa dilakukan secara parsial dan memerlukan strategi pencegahan nan kuat melalui edukasi nan tepat sasaran. Kami sedang mengolah kembali materi edukasi mengenali konten radikal nan lebih mudah diterima oleh anak," ujar Titi.

Sementara itu, Direktur Information and Communication Technology (ICT) Watch, Indriyatno Banyumurti turut menekankan pentingnya kerjasama multipihak dalam memperkuat literasi digital dan perlindungan anak di ruang siber.  ICT Watch menilai pola penyebaran radikalisme digital terus berubah mengikuti tren platform nan digunakan masyarakat, termasuk anak-anak dan remaja.

“Pendekatan komunikasi dan edukasi kudu disesuaikan dengan karakter anak serta perkembangan platform digital nan mereka gunakan. Pesan pencegahan tidak bisa disampaikan dengan langkah nan kaku lantaran tantangan di ruang digital bergerak sangat cepat.  Konten edukasi kudu bisa bersaing dengan derasnya arus info di media sosial,” pungkasnya. (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia