Sekitar 100 delegasi dari belasan klub wanita dari beragam negara datang ke Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta, pada Kamis, 30 April 2026, untuk menghadiri rangkaian gala dinner dalam Konferensi Internasional Women’s International Club (WIC) ke-17 nan berjalan di tiga kota di Indonesia.
Konferensi ini digelar pada 26 April hingga 5 Mei 2026 di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali, dengan mengusung tema “Bridging Traditions and Transformations: Empowering Women through Education and Cultural Heritage in a Changing World” nan berfokus pada pemberdayaan wanita melalui pendidikan dan pelestarian budaya di tengah perubahan zaman.
Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam, menyebut WIC merupakan jaringan wanita nan tersebar di beragam negara dan aktif dalam aktivitas sosial.
“Tapi memang WIC ini tidak hanya di Jakarta tapi di seluruh dunia. Jadi jika di seluruh bumi namanya Women Club International. Mereka memang senang berkumpul untuk membahas isu-isu sosial nan ada dan mereka setiap pidato di Indonesia. Itu nan saya suka. Makanya saya mau mengadakan dinner untuk mereka lantaran mereka sosialnya besar,” katanya kepada tim Pandangan Jogja, Jumat (1/5).
Konferensi WIC ke-17 diselenggarakan di tiga kota, ialah Jakarta, Yogyakarta, dan Bali, serta diikuti peserta dari beragam negara, seperti Amerika Serikat, Taiwan, Jerman, dan Inggris.
Selama berada di Yogyakarta, para peserta mengikuti rangkaian aktivitas berbasis budaya, mulai dari mengunjungi Kampung Batik Giriloyo untuk belajar proses membatik hingga melakukan kunjungan ke Candi Borobudur.
Ketua Konferensi Internasional WIC, Nina Handoko, menjelaskan pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budaya Indonesia secara langsung kepada peserta.
“Di Yogyakarta kami pergi ke Kampung Batik Giriloyo di mana para peserta kami belajar sendiri gimana caranya membikin batik nan rupanya susah banget. Habis sesudah dari itu kami ke Borobudur Teple juga dan pada malam hari ini kami dijamu di Pakualam oleh ibu Gusti Putri,” ujarnya.
Selain mengikuti agenda budaya, para peserta menghadiri jamuan makan malam di Pakualaman nan menjadi bagian dari rangkaian konferensi. Mereka tiba di letak dengan menaiki andong dari area Malioboro menuju Puro Pakualaman.
Malam itu sekaligus menjadi momen diperkenalkannya Batik Asthabrata sebagai salah satu karya unik Pakualaman nan berasal dari manuskrip antik koleksi Perpustakaan Widyapustaka, seperti Sestradisuhul dan Sestra Ageng Adidarma, nan memuat aliran kepemimpinan Jawa.
Ambassador of Belize to the Republic of China, Katherine Meighan, menyampaikan kesan terhadap Yogyakarta sebagai kota nan mempunyai kekayaan budaya nan tercermin dalam kehidupan masyarakat.
“Jadi, hanya dengan memandang apa nan ditawarkan kota ini, seperti batik dan budaya nan ada di sini, Anda bisa melihatnya di beragam lapisan kehidupan dan pada masyarakatnya Anda juga bisa mendengar dan merasakan semangat pada kecintaannya” uangkapnya
Konferensi ini mempertemukan wanita dari beragam negara untuk berganti pengalaman serta memperkuat peran wanita dalam rumor sosial, pendidikan, dan pelestarian budaya di tingkat global.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·