Ternyata Ini Alasan Kaviar Bisa Mahal

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Ilustrasi caviar. Foto: Uladzimir S/Shutterstock

Kaviar mungkin terdengar familiar di telinga, tetapi tidak semua orang pernah mencicipi telur ikan berwarna hitam ini. Ya, sejak lama, kaviar memang identik dengan makanan premium nan sering dikaitkan dengan style hidup mewah.

Tak jarang, hidangan ini muncul dalam konten kuliner para kreator, termasuk Sisca Kohl nan kerap membagikan pengalaman menyantap makan-makanan mewah. Di e-commerce, kaviar pun dijual dengan nilai beragam, apalagi bisa mencapai Rp 2 juta untuk 25 gram.

Harga tersebut tentu membikin banyak orang bertanya-tanya, sebenarnya apa sih nan membikin kaviar begitu mahal?

Dikutip dari The Take Out, kaviar pada dasarnya adalah telur ikan sturgeon nan diawetkan dengan garam. Ikan ini tergolong jenis purba nan tumbuh sangat lambat. Untuk bisa menghasilkan telur saja, seekor sturgeon memerlukan waktu hingga sekitar 10 tahun, dan itu pun dengan catatan kondisi lingkungan betul-betul ideal. Artinya, proses untuk mendapatkan kaviar bukan sesuatu nan sigap alias sederhana.

Pekerja mengekstrak kaviar dari sterlet di kompleks ikan sturgeon Aquatir di kota Tiraspol, ibu kota Transnistria, Moldova. Foto: SERGEI GAPON/AFP

Tidak seperti telur ikan lainnya, kaviar original hanya berasal dari jenis sturgeon tertentu. Hal ini otomatis membatasi pasokan di pasaran. Ditambah lagi, budidaya dan perdagangan ikan ini diatur secara ketat, sementara proses pengolahan telurnya kudu dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga kualitas.

Mengutip dari laman The Caviar Bar UK, kelangkaan juga menjadi aspek penting. Populasi sturgeon di alam liar terus menurun akibat penangkapan berlebihan dan kerusakan habitat. Beberapa jenis apalagi berada di periode kepunahan.

Salah satu nan paling terdampak adalah sturgeon Beluga (Huso huso), nan dikenal menghasilkan kaviar berbobot tinggi. Karena statusnya nan sangat terancam, Amerika Serikat apalagi melarang impor kaviar Beluga sejak 2005. Tak heran jika jenis ini menjadi salah satu nan paling langka sekaligus paling mahal di dunia.

Di tengah kondisi tersebut, produsen kaviar sekarang banyak beranjak ke sistem budidaya berkepanjangan alias akuakultur. Ikan sturgeon dibesarkan dalam lingkungan terkontrol untuk menjaga kelestarian populasi liar. Meski langkah ini lebih ramah lingkungan, biaya produksi nan dibutuhkan justru semakin besar.

Pekerja mengekstrak kaviar dari sterlet di kompleks ikan sturgeon Aquatir di kota Tiraspol, ibu kota Transnistria, Moldova. Foto: SERGEI GAPON/AFP

Selain itu, lamanya siklus hidup sturgeon juga berpengaruh besar terhadap harga. Beberapa jenis seperti Baerii bisa mulai menghasilkan telur pada usia 6 hingga 8 tahun. Sementara itu, Oscietra dan Imperial biasanya dipanen saat ikan berumur 8 hingga 12 tahun. nan paling lama adalah Beluga, nan memerlukan waktu hingga 18-20 tahun untuk mencapai kematangan penuh. Waktu pemeliharaan nan panjang ini tentu menjadi investasi besar bagi produsen.

Proses panennya pun tidak kalah rumit. Mengambil telur sturgeon memerlukan ketelitian tinggi agar kualitas tetap terjaga. Setelah dipanen, telur kudu melalui serangkaian proses seperti penyaringan, pencucian, pemberian garam, hingga pengemasan. Setiap tahap dilakukan dengan hati-hati lantaran kesalahan mini saja bisa merusak seluruh hasil.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan