Tanpa Jasa 11 Pria Tuna Rungu Ini, Misi Apollo 17 dan Artemis Hanyalah Mimpi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Galaudet Eleven. Foto: NASA

Alkisah, tahun 1950-an, lembaga antariksa AS, NASA punya mimpi untuk mengirim manusia ke luar angkasa. Mereka melakukan serangkaian tes, uji coba, penelitian untuk mewujudkan ambisi itu.

Luar angkasa saat itu tetap jadi misteri. Seperti apa rasanya berada di sana? Atau, apakah manusia bisa memperkuat dalam kondisi nyaris mendekati nol gravitasi. Apakah mempengaruhi kondisi bentuk astronaut nan bakal berangkat?

NASA dan Sekolah Kedokteran Penerbangan Angkatan Laut AS lampau mendirikan program penelitian berbareng untuk mempelajari pengaruh manusia berada dalam kondisi nol gravitasi. Mereka merekrut 11 laki-laki tuna rungu berumur 25-48 tahun dari Gallaudet College alias sekarang lebih dikenal dengan nama Gallaudet University.

11 orang ini sekarang dikenal dalam sejarah sebagai 'Gallaudet Eleven.' Siapa saja mereka?

  • Harold Domich

  • Robert Greenmun

  • Baron Gulak

  • Raymond Harper

  • Jerald Jordan

  • Harry Larson

  • David Myers

  • Donald Peterson

  • Raymond Piper

  • Alvin Steele

  • John Zakutney

Kenapa NASA pilih 11 orang tersebut?

Saat itu, NASA mau meneliti kondisi tubuh manusia nan bakal ke luar angkasa dengan kondisi ekstrem. Masalahnya adalah, tiap peserta uji mencoba serangkaian tes, semuanya mabuk perjalanan.

Padahal mereka berpacu dengan waktu lantaran dalam waktu dekat kudu menerbangkan astronaut ke Bulan dalam misi Apollo 17.

Sebelas orang ini sudah tuna rungu sejak usia dini. Kondisi mereka disebabkan oleh meningitis tulang belakang. Kondisi ini merusak sistem vestibular telinga bagian dalam. Kabar baiknya, kondisi mereka membikin mereka lebih "kebal" terhadap mabuk perjalanan, menurut laporan NASA.

Galaudet Eleven. Foto: NASA

Selama satu dasawarsa bereksperimen, para peneliti mengukur reaksi para sukarelawan terhadap mabuk perjalanan baik pada tingkat fisiologis maupun psikologis, meminta 11 laki-laki tersebut untuk melaporkan secara perincian sensasi dan perubahan persepsi mereka.

Eksperimen ini membantu meningkatkan pemahaman tentang gimana sistem sensorik tubuh bekerja ketika isyarat gravitasi biasa dari telinga bagian dalam tak berfaedah seperti kondisi nan dialami para pemuda ini dan dalam penerbangan luar angkasa.

Eksperimen tersebut menguji keseimbangan dan penyesuaian fisiologis peserta dalam beragam lingkungan. Salah satu tes melibatkan empat peserta nan menghabiskan 12 hari berturut-turut di dalam ruangan berputar lambat sepanjang 6 meter, bergerak konstan dengan kecepatan sepuluh putaran per menit.

Dalam skenario lain, peserta berperan-serta dalam serangkaian penerbangan tanpa gravitasi di pesawat "Vomit Comet" nan terkenal untuk memahami hubungan antara orientasi tubuh dan isyarat gravitasi.

Galaudet Eleven. Foto: NASA

Eksperimen lain, dilakukan di atas kapal feri di lepas pantai Nova Scotia, menguji reaksi peserta terhadap laut nan bergelombang. Peserta diminta bermain kartu dan menikmati kebersamaan satu sama lain. Saking kebalnya peserta, kondisi ini sampai-sampai bikin penelitinya sendiri mabuk laut sehingga penelitian kudu dibatalkan.

Subjek tes Gallaudet melaporkan tidak ada pengaruh bentuk nan merugikan dan, bahkan, menikmati pengalaman tersebut. Peserta tes Barron Gulak kemudian berkomentar tentang penelitian tersebut: “Jika dilihat kembali, ya, itu menakutkan… tetapi pada saat nan sama kami tetap muda dan suka berpetualang.”

Galaudet Eleven. Foto: NASA

Berdasarkan temuan mereka dari penelitian selama satu dekade, para peneliti memperoleh wawasan tentang sistem sensorik tubuh dan responsnya terhadap lingkungan gravitasi asing.

Melalui ketahanan dan dedikasi mereka, karya Gallaudet Eleven memberikan kontribusi substansial terhadap pemahaman tentang mabuk perjalanan dan penyesuaian terhadap penerbangan luar angkasa.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan