Tangis Ibu Saat Koper PMI yang Tewas di Korsel Tiba di Rumah: Ada Barang Hilang

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Tetty Herawati Napitupulu (42), ibu dari putranya Reza Valentino Simamora nan meninggal saat kecelakaan kerja di kapal penangkap ikan di laut Korea, Jumat (30/1/2026). Foto: Amar Marpaung/kumparan

Tangis Tetty Herawati Napitupulu (42) pecah saat barang-barang anaknya, Reza Valentino Simamora (21), nan tewas lantaran kecelakaan kerja di Korea Selatan, tiba di rumahnya.

Reza meninggal bumi saat bekerja di kapal di perairan laut lepas di Korea Selatan pada 23 September 2025. Kakinya terikat tali sling hingga dirinya terlempar ke laut dan tenggelam.

Reza merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) resmi dari Indonesia melalui skema G to G (Government to Government) di bawah naungan pemerintah Indonesia.

Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Utara mengantarkan barang-barang milik Reza ke kediamannya di Jalan Dame, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan, pada Rabu (15/4).

Pihak family pun menerima kotak berisi barang-barang Reza. Namun, kondisi koper sudah terbuka dan pembungkus koper tersebut sudah rusak.

Saut Tarulitua Simamora, ayah Reza, beranggapan bahwa koper tersebut diduga kuat telah dirusak dan beberapa busana kerja serta dua handphone (HP) dan paspor milik Reza tidak ada di dalam koper tersebut.

"Dua HP anak saya atas nama almarhum Reza Valentino Simamora tidak ada di tas nan sudah dipulangkan dan disampaikan kepada orang tua. Ini tetap utuh sewaktu temannya mengantarkan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Korea, saya kecewa," kata Saut saat ditemui di kediamannya.

Saut menduga bahwa barang-barang anaknya telah lenyap dan dirinya meminta pertanggungjawaban kepada Direktur Jenderal Pelayanan dan Direktur Jenderal Penempatan atas barang-barang anaknya.

"Diduga keras tadi sudah terbongkar. Beda sama ini (foto awal saat packing koper nan dikirim kawan Reza). Saya kecewa ini. Dirjen Pelayanan dan Dirjen Penempatan kudu dicopot. Ingat, saya bakal melaporkan Anda ke Komnas HAM, Ombudsman, dan Presiden. Ini diacak-acak tas anak saya nan sudah meninggal. HP anak saya lenyap dua, Samsung dan Redmi," jelas Saut.

Pada kesempatan nan sama, Enceng Supiyanto, tim perlindungan BP3MI Sumut, mengatakan bahwa pengantaran peralatan milik Reza terkendala lantaran proses pengirimannya melalui kapal laut dari Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang.

"Dua hari nan lampau sampai di instansi kami. Dapat info kudu disampaikan langsung ke family Reza. Kami ditugaskan ketua untuk menyampaikannya hari ini. (Kendala) lantaran proses pengirimannya melalui kapal laut," ujar Enceng.

BP3MI Akan Cek ke Kargo Terkait Barang Milik Reza nan Hilang

Riansah Manalu, Staf Penelaah BP3MI Sumut, menjelaskan pihaknya bakal menelusuri peralatan milik Reza nan lenyap di dalam koper tersebut.

"Tadi kita lihat barang-barang di situ, kotaknya tadi kita sama-sama buka berbareng dengan pihak keluarga. Untuk koper memang ada dalam posisi terbuka saat kita lihat. Kalau memang ada peralatan nan tidak ada di koper itu, kelak kita bisa tanyakan ke pihak kargo dan juga pihak KBRI," imbuh Riansah.

"Itu nan kita bantu untuk telusuri ke pihak kargo dan KBRI mengenai dengan barang-barang ini, kemarin isinya apa. Kalau kami nan di sini bekerja hanya mengantarkan barangnya. Dan posisinya memang sudah seperti ini, jadi tidak ada sama sekali dibuka," sambung Riansah.

Hak Asuransi dan Gaji Belum Dibayarkan

Saut menjelaskan bahwa hingga saat ini kewenangan asuransi dari perusahaan Korea Selatan dan sisa penghasilan anaknya juga belum dibayarkan. Sisa penghasilan Reza dari tanggal 1 September hingga 23 September 2025 belum diterima keluarga.

"Sangat lambat, ada permainan kita duga. Saya sebagai orang tua menduga, masa asuransi Korea Selatan bertele-tele? Masa Indonesia duluan, tidak sampai sebulan sudah cair BPJS," kata Saut.

Sebelumnya, jenazah Reza ditemukan pada 27 September 2025. Terdapat luka di sekitar dadanya. Jenazahnya tiba di kediamannya pada 5 Oktober 2025.

Reza berangkat ke Korea Selatan pada Maret 2025 untuk bekerja di kapal penangkap ikan milik PT Garamho. Sebelum berangkat, dia lebih dulu menyelesaikan kursus bahasa Korea selama empat bulan di Lembaga Pelatihan Kerja di Karanganyar, Semarang.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan