Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus memantau penerapan kebijakan transformasi budaya kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bandar Lampung pada Jumat (10/4), guna memastikan penerapan pola kerja Work from Office (WFO) dan Work from Home (WFH) melangkah optimal tanpa mengganggu pelayanan kepada masyarakat.
Wiyagus menilai, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung melaksanakan kebijakan dengan baik. Penerapan pola kerja tersebut merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri (Mendagri) nan menetapkan WFH setiap Jumat guna meningkatkan efisiensi.
"Hasil tinjauan kami ke tempat ini di antaranya Mal Pelayanan Publik, nan semuanya melangkah baik. Artinya masyarakat tidak terganggu dengan adanya Surat Edaran ini. Kenapa? Karena loket-loket nan ada tidak ada nan berkurang. Kemudian juga petugas semuanya melayani seperti biasa," kata Wiyagus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menegaskan, penerapan pola kerja elastis merupakan bagian dari transformasi budaya kerja ASN nan menitikberatkan pada kinerja, akuntabilitas, dan pemanfaatan teknologi, tanpa mengurangi kualitas jasa publik.
Adapun sejumlah unit jasa tetap dikecualikan dari kebijakan WFH, seperti jasa kedaruratan, kebencanaan, pemadam kebakaran, serta jasa kesehatan.
"Kehadiran dokternya juga lengkap. Pelayanan seperti biasanya, [seperti] Unit Gawat Darurat, kemudian ke bagian perawatan bayi, kebidanan. Semuanya melangkah seperti biasa, tanpa mengurangi kualitas jasa nan selama ini berjalan," tutur Wiyagus.
Selain itu, kepala daerah, pejabat struktural, mulai dari sekretaris daerah, camat, hingga lurah, tetap melaksanakan tugas dari instansi guna memastikan koordinasi dan pengambilan keputusan melangkah efektif.
Sementara pada aspek pengawasan, pemerintah wilayah di Provinsi Lampung telah memanfaatkan sistem digital untuk memastikan disiplin dan keahlian ASN nan bekerja dari rumah.
"Yang WFH ini ada tanggungjawab juga, tidakhadir [presensi] setiap pagi, kemudian menyampaikan laporan kerjaan, kemudian juga tidakhadir [presensi] sore. Artinya tetap dilakukan seperti biasa. Jadi WFH ini tidak mengurangi produktivitas pegawai," kata Wiyagus.
Lebih lanjut, Wiyafus mengingatkan tentang efisiensi penggunaan sumber daya sebagai bagian dari transformasi budaya kerja, seperti penghematan listrik, air, serta optimasi penggunaan akomodasi kantor.
"Kemudian juga perangkat-perangkat elektronik, ini dicabut, kemudian juga AC dimatikan. Ini bagian dari efisiensi sumber daya, baik listrik, air, dan lain sebagainya," pungkas Wiyagus.
(rea/rir)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·