Selat Hormuz Sempat Dibuka, Wall Street Cetak Rekor 3 Hari Beruntun

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Sabtu (18/4/2026). Foto: STR/ REUTERS

Indeks referensi S&P 500 dan Nasdaq nan didominasi saham teknologi masing-masing menguat hingga mencatat penutupan rekor untuk hari ketiga berturut-turut pada Jumat (17/4). Sementara Dow Jones nan berisi saham-saham unggulan mencatat penutupan tertinggi sejak akhir Februari.

Kenaikan ini terjadi setelah penanammodal menyambut keputusan Iran membuka Selat Hormuz serta optimisme bahwa negara tersebut dapat mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang.

Mengutip Reuters, Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 868,71 poin alias 1,79 persen menjadi 49.447,43, S&P 500 (.SPX) naik 84,78 poin alias 1,20 persen menjadi 7.126,06. Sementara itu, Indeks Nasdaq Composite (.IXIC) nan didominasi saham teknologi memperoleh 365,78 poin, alias naik 1,52 persen, menjadi 24.468,48.

Selama sepekan, S&P 500 naik 4,53 persen, Nasdaq melonjak 6,84 persen, dan Dow menguat 3,2 persen.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan dalam unggahan di X bahwa jalur bagi seluruh kapal komersial melalui Selat Hormuz “sepenuhnya terbuka” setelah adanya kesepakatan gencatan senjata di Lebanon.

Hal ini menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump pembicaraan dapat berjalan akhir pekan ini antara Teheran dan Washington, serta kesempatan tercapainya perjanjian tenteram dalam waktu dekat untuk mengakhiri perang Iran, nan telah menewaskan ribuan orang sejak AS dan Israel melancarkan serangan campuran pada 28 Februari.

Meski pernyataan dari kedua pihak tetap menyisakan ketidakpastian mengenai seberapa sigap aktivitas pelayaran dapat kembali normal, nilai minyak mentah AS ambruk lebih dari 11 persen, sehingga meredakan kekhawatiran inflasi. Selat Hormuz merupakan jalur perairan vital bagi transportasi daya global.

video story embed

Saham Energi Melemah Seiring Harga Minyak Turun

Indeks saham berkapitalisasi mini Russell 2000 (.RUT) mengungguli kenaikan saham berkapitalisasi besar dengan penutupan naik 2,1 persen, sekaligus mencatat rekor penutupan tertinggi setelah sebelumnya menyentuh rekor intraday pertama sejak perang pecah.

“Harga daya nan turun berakibat lebih besar pada saham berkapitalisasi mini lantaran margin mereka lebih sempit,” kata Nick Johnson, CEO dan CIO Willis Johnson & Associates.

“Mulai terlihat bahwa AS dan Iran mau segera mengakhiri bentrok ini,” imbuhnya.

Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, sektor daya (.SPNY) menjadi nan paling tertekan dengan penurunan 2,9 persen. Saham Exxon Mobil turun 3,6 persen dan Chevron melemah 2,2 persen, menjadi penekan terbesar kedua dan ketiga bagi indeks pada hari itu.

Sebaliknya, sektor konsumsi diskresioner (.SPLRCD) menjadi nan paling menguat dengan kenaikan nyaris 2 persen, dipimpin oleh operator kapal pesiar. Saham Royal Caribbean melonjak 7,3 persen dan Carnival naik 7 persen. Sektor industri (.SPLRCI) menjadi nan terkuat kedua dengan kenaikan 1,8 persen, dipimpin oleh maskapai United Airlines nan naik 7 persen.

Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Kehati-hatian Masih Membayangi Jalur Selat

Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan tetap ada tantangan logistik bagi perusahaan pelayaran.

“Operator kapal tetap menghadapi premi asuransi akibat perang nan sangat tinggi, potensi ancaman ranjau, serta ketidakpastian dalam penegakan aturan,” kata Erik Bethel, mitra umum di perusahaan investasi maritim Mare Liberum.

Penekan terbesar S&P berasal dari saham Netflix nan ambruk 9,7 persen setelah memproyeksikan untung kuartal melangkah di bawah ekspektasi. Perusahaan juga mengumumkan mundurnya salah satu pendiri sekaligus Chairman lama, Reed Hastings, setelah menjabat selama 29 tahun.

Saham Alcoa turun 6,8 persen setelah produsen aluminium tersebut melaporkan untung dan pendapatan kuartal pertama di bawah perkiraan analis, dengan argumen biaya nan meningkat dan permintaan nan melemah.

Jumlah saham nan naik melampaui nan turun dengan rasio 4,03 banding 1 di Bursa Efek New York, dengan 623 saham mencetak level tertinggi baru dan 46 saham menyentuh level terendah baru. Di Nasdaq, 3.685 saham naik dan 1.183 turun, dengan rasio 3,11 banding 1.

S&P 500 mencatat 49 level tertinggi baru dalam 52 minggu dan tidak ada level terendah baru. Volume perdagangan tergolong tinggi di bursa AS, dengan total 20,29 miliar saham beranjak tangan, dibandingkan rata-rata 19,12 miliar saham dalam 20 sesi terakhir.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan