Dari satu swipe ke swipe lain, generasi sedang dibentuk diam-diam
Bangun tidur memandang layar ponsel, sebelum tidur tetap scrolling media sosial kebiasaan ini terasa wajar, tetapi diam-diam membentuk langkah berpikir generasi sekarang. Fenomena ini dikenal sebagai digital rabbit hole, ialah kondisi ketika seseorang terus mengikuti alur konten tanpa sadar hingga susah berhenti. Istilah tersebut terinspirasi dari kisah Alice’s Adventures in Wonderland, saat tokoh utamanya, Alice, jatuh ke lubang kelinci dan masuk ke bumi nan berbeda. Dalam konteks digital, kondisi ini menggambarkan kita nan terjebak dalam pusaran konten, algoritma, alias info nan membikin kita terus melakukan scrolling tanpa henti dan lupa waktu, terutama pada generasi muda.
Jika kebiasaan ini terus berulang, pertanyaannya bukan lagi sekadar soal waktu nan terbuang melainkan gimana digital rabbit hole membentuk karakter generasi baru nan dikenal sebagai glass generation?
Kehadiran algoritma menjadi argumen utama kenapa digital rabbit hole begitu mudah terjadi. Setiap hubungan pengguna mulai dari like, komentar, hingga lama menonton bakal direkam dan diolah menjadi rekomendasi konten nan semakin personal. Akibatnya, pengguna tidak merasa sedang “terjebak” lantaran semua nan muncul terasa relevan dan menarik perhatian. Berdasarkan laporan dunia We Are Social (2024) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial telah menjadi bagian utama dari aktivitas harian masyarakat bumi digital, rata-rata pengguna media sosial dunia menghabiskan sekitar 2 jam 23 menit per hari. Durasi ini memperlihatkan bahwa hubungan dengan layar bukan lagi aktivitas tambahan, melainkan rutinitas nan melekat.
Dalam situasi seperti ini, seseorang bisa menghabiskan waktu sangat lama tanpa betul-betul sadar, bukan lantaran dipaksa, tetapi lantaran sistem digital memang dirancang untuk mempertahankan perhatian. Di sisi lain, glass generation merujuk pada generasi nan tumbuh dengan kedekatan tinggi terhadap layar, khususnya Generasi Alpha nan lahir setelah tahun 2010. Mereka tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi hidup berdampingan dengan teknologi. Dari belajar, bermain, hingga mencari hiburan, nyaris semua aktivitas terhubung dengan perangkat digital. Kondisi ini membikin layar bukan lagi perangkat bantu, melainkan bagian dari keseharian nan susah dipisahkan. Akses info nan serba sigap membentuk pola pikir instan apa nan mau diketahui bisa langsung ditemukan tanpa proses panjang.
Ketika digital rabbit hole dan glass generation bertemu, dampaknya menjadi semakin kompleks. Kebiasaan mengonsumsi konten tanpa henti memperkuat kedekatan generasi ini dengan layar. Semakin lama waktu nan dihabiskan di bumi digital, semakin besar peran teknologi dalam membentuk langkah berpikir, kebiasaan, hingga preferensi mereka. Penelitian mengenai screen time menunjukkan bahwa paparan layar berlebihan dapat berangkaian dengan perubahan pola hubungan sosial dan perkembangan perilaku, terutama pada usia anak dan remaja. Meski tidak selalu berakibat negatif secara langsung, pola konsumsi digital nan tidak terkontrol dapat memengaruhi keseimbangan aktivitas harian. Tanpa disadari, perubahan ini terjadi secara perlahan. Tidak ada pemisah jelas kapan seseorang mulai terlalu berjuntai pada layar. Semua terasa normal lantaran dilakukan nyaris oleh banyak orang.
Fenomena ini semakin terlihat dalam kehidupan sehari-hari di rumah, di sekolah, hingga ruang publik. Interaksi dengan layar menjadi aktivitas dominan nan susah dihindari. Sejak meningkatnya penggunaan internet dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi, intensitas ini semakin tinggi dan merata di beragam golongan usia. Namun, kondisi ini tidak kudu selalu dipandang negatif. Teknologi tetap membawa banyak faedah jika digunakan secara bijak. Tantangannya adalah gimana menjaga keseimbangan antara bumi digital dan kehidupan nyata, tanpa kudu sepenuhnya menjauh dari teknologi.
Kesadaran menjadi langkah awal untuk keluar dari siklus digital rabbit hole. Membatasi waktu layar, memahami langkah kerja algoritma, serta mencari ragam aktivitas di luar bumi digital dapat membantu menjaga keseimbangan tersebut. Dalam perihal ini, peran individu, keluarga, hingga lingkungan menjadi krusial untuk membentuk kebiasaan nan lebih sehat.
Pada akhirnya, digital rabbit hole dan glass generation menunjukkan satu perihal nan sama, teknologi tidak hanya mengubah langkah kita mengakses informasi, tetapi juga membentuk langkah kita hidup. Jika tidak disadari sejak awal, kebiasaan sederhana seperti scroll tanpa henti bisa berkembang menjadi pola nan menetap. Oleh lantaran itu, pertanyaannya bukan lagi apakah kita menggunakan teknologi, tetapi apakah kita bisa mengendalikannya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·