Bank Sentral AS, The Fed, bakal berkumpul di Washington pekan ini dalam sebuah pertemuan nan kemungkinan menjadi momen terakhir bagi Jerome Powell sebagai pemimpin bank sentral Amerika Serikat.
Mengutip Reuters, pertemuan ini berjalan di tengah tingginya nilai daya dan ketidakpastian ekonomi akibat perang Iran nan tetap berlanjut.
Masa kedudukan Powell selama delapan tahun di posisi puncak bank sentral diperkirakan berhujung pada 15 Mei 2026. Peluang Kevin Warsh sebagai penerusnya semakin kuat setelah halangan dalam proses konfirmasi di Senat Amerika Serikat telah diselesaikan pada pekan lampau menyusul penghentian penyelidikan terhadap Powell oleh Departemen Kehakiman.
"Sebagai tindakan akhir dalam kepemimpinannya, Powell diperkirakan bakal mengawasi pemungutan bunyi Komite Pasar Terbuka Federal pada Rabu 29 April 2026 untuk mempertahankan suku kembang referensi pada kisaran 3,50-3,75 persen. Angka ini tidak berubah sejak Desember tahun lalu," tulis lapoaran Reuters seperti nan dikutip kumparan, Selasa (28/4).
Fokus utama pasar sekarang tertuju pada pernyataan Powell mengenai potensi kenaikan suku kembang di sisa tahun ini jika inflasi kembali melesat.
Sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, nilai minyak mentah Brent telah melonjak sekitar 50 persen. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah mengganggu rantai pasok dunia dan memicu kenaikan Indeks Harga Konsumen terbesar dalam empat tahun terakhir.
Gubernur The Fed, Christopher Waller, menyatakan bahwa situasi saat ini sangat rumit bagi para kreator kebijakan. Ia memperingatkan bahwa semakin lama nilai daya tetap tinggi dan Selat Hormuz terhambat, maka semakin besar akibat inflasi tinggi merembet ke beragam sektor peralatan dan jasa lainnya.
"Kondisi ini sangat rumit lantaran kita menghadapi pasar tenaga kerja nan melunak di saat inflasi tetap tinggi," ujar Waller dalam keterangan resminya.
Hal senada disampaikan oleh Presiden Federal Reserve St Louis Alberto Musalem nan menilai bahwa periode panjang nilai minyak nan tinggi dapat merusak jangkar ekspektasi inflasi jangka menengah hingga panjang.
"Jika perihal itu terjadi, bank sentral kemungkinan besar kudu meningkatkan suku kembang untuk meredam tekanan ekonomi," tulis Reuters.
Meskipun The Fed sebelumnya diprediksi bakal melanjutkan pemangkasan suku kembang pada tahun ini, pasar obligasi sekarang justru bersiap untuk suku kembang tetap di level saat ini hingga pertengahan tahun 2027.
Para ahli ekonomi dari Bank of America memperkirakan Powell bakal memberikan nada bicara nan condong keras alias hawkish guna menanggapi akibat inflasi nan belum mereda.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·