RI Terancam Harga Minyak Mahal dan Dana Asing Pergi Imbas Perang di Iran

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo memberikan kata sambutan dalam peresmian soft launching Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Senin (23/2/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan RI menghadapi akibat tekanan ekonomi akibat lonjakan nilai minyak dan keluarnya aliran biaya asing (capital outflow) nan dipicu bentrok geopolitik, termasuk perang di Timur Tengah nan melibatkan Iran-AS dengan Israel.

Perry menyoroti kondisi dunia nan semakin memburuk akibat kebijakan tarif resiprokal serta eskalasi bentrok nan berakibat luas pada sektor komoditas, keuangan, dan perdagangan dunia.

"Kondisinya semakin memburuk di tengah ada kebijakan tarif resiprokal, ada perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran nan kemudian kita sudah banyak tahu berakibat kepada ekonomi dan finansial dunia baik jalur komoditas, finansial maupun perdagangan," ujar Perry saat rapat kerja berbareng Komisi XI di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (8/4).

Dari sisi komoditas, menurut Perry, gangguan rantai pasok (supply chain) dan kenaikan nilai daya menjadi akibat paling nyata. Harga minyak bumi mengalami lonjakan tajam dan naik turun dalam beberapa bulan terakhir.

"Bagaimana nilai minyak minyak nan meroket di bulan sejak Februari ke Maret apalagi kemarin pernah [USD] 122,95 dan itu terus naik turun, naik turun, naik turun. Harga emas nan selama tahun 2025 meningkat dan juga tetap tinggi, itulah akibat pertama," jelasnya.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, saat rapat kerja berbareng Komisi XI DPR, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan

Kenaikan nilai komoditas itu, khususnya minyak, berpotensi menekan kondisi fiskal Indonesia lantaran meningkatkan beban subsidi daya serta memicu tekanan inflasi.

Selain itu, Perry juga menyoroti akibat di sektor finansial global, terutama kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat alias US Treasury.

"Tapi dengan adanya perang minyak, perang di Timur Tengah ini kemudian kemudian dua-duanya meningkat pesat, lantaran apa? Karena kenaikan defisit fiskal Amerika Serikat termasuk untuk anggaran perang," ujarnya.

Kenaikan yield tersebut membikin aset finansial di AS menjadi lebih menarik, sehingga mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Kemudian kenaikan nilai obligasi pemerintah Amerika berakibat kepada portfolio inflow maupun akibat nan lain," lanjutnya.

Perry mengungkap tren aliran modal asing sekarang berbalik arah. Jika sebelumnya tetap menunjukkan kecenderungan masuk meski volatil, sekarang justru terjadi arus keluar nan signifikan.

"Portofolio inflow-nya itu nan tahun lampau itu volatilitas tapi ada tren naik, tapi sejak tahun ini ada terjadi outflow nan besar dari emerging market ke pasar finansial bumi baik dalam corak obligasi saham maupun nan lain," katanya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan