Golkar Soroti Kasus Pelecehan Seksual: Kampus Gagal Lindungi Mahasiswa

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Jakarta -

Ketua Fraksi Golkar DPR RI Muhamad Sarmuji menyoroti kasus dugaan pelecehan seksual nan belakangan terjadi di lindungan kampus. Sarmuji menyebut kasus nan dilaporkan terjadi di universitas sebagai corak sirine dalam perlindungan mahasiswa.

"Ini bukan lagi kasus satu-dua oknum. Ini adalah sirine keras bahwa kampus kandas menjalankan kegunaan dasarnya sebagai ruang pendidikan nan aman. Kalau kasus terus berulang di beragam perguruan tinggi, itu berfaedah ada nan salah secara sistemik, dan ketua kampus tidak bisa menciptakan atmosfer nan melindungi mahasiswa," kata Sarmuji dalam keterangannya, Senin (20/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sarmuji mengatakan banyak mahasiswa nan memilih tak bersuara lantaran aspek relasi kuasa dengan rektor, dekan, maupun dosen. Ia menekankan kampus kudu menjadi tempat nan aman, bukan justru menakutkan.

"Mahasiswa berada pada posisi nan rentan. Ketika perlindungan tidak datang dari institusi, maka kampus justru menjadi tempat nan menakutkan, bukan tempat belajar," ujarnya.

Sekjen Golkar ini menegaskan pelecehan seksual nan terjadi di sejumlah kasus tak boleh terulang kembali. Ia meminta ada pembenahan secara menyeluruh oleh kampus terkait.

"Kita tidak boleh lagi menormalisasi kejadian seperti ini. Setiap kasus adalah kegagalan institusi," ujarnya.

Sarmuji lantas menyinggung soal kejadian gunung es di kasus pelecehan seksual. Pihaknya meminta ada hukuman nan jelas tehadap mahasiswa nan terlibat dalam kasus pelecahan.

"Apa nan terungkap ke publik hari ini hanyalah kejadian puncak gunung es nan tampak hanya sebagian dari nan sebenarnya," ujar Sarmuji.

"Perlu dipikirkan sistem hukuman nan jelas. Jika di sebuah kampus terjadi kasus pelecehan seksual, maka ketua tidak bisa lepas tangan. Itu adalah parameter kegagalan kepemimpinan," tambahnya.

Ia juga meminta Kemendikti Saintek tak berakhir pada regulasi, tetapi memastikan penerapan dan pengawasan melangkah efektif di seluruh perguruan tinggi. Ia mengingatkan kampus kudu menjadi ruang aman, apalagi justru membikin mahasiswa penuh ketakutan.

"Regulasi sudah ada, tetapi implementasinya lemah. nan dibutuhkan sekarang adalah keberanian menegakkan patokan dan melindungi korban. Kampus kudu kembali menjadi ruang nan aman, bukan ruang nan penuh ketakutan," ungkapnya.

Diketahui, media sosial belakangan dihebohkan dengan kasus dugaan pelecehan seksual oleh 16 mahasiswa FH UI dalam group chat. UI mengambil langkah untuk menonaktifkan sementara ke-16 mahasiswa tersebut selama proses pemeriksaan berjalan.

Terbaru, IPB juga menegaskan komitmennya terhadap dugaan pelecehan seksual di kampus. Hal ini menindaklanjuti tangkapan layar group chat diduga milik mahasiswa teknik mesin dan biosistem Institut Pertanian Bogor (IPB) nan beredar di media sosial.

Isi percakapan di grup itu menjurus ke pelecehan seksual. Pihak kampus pun langsung melakukan investigasi mengenai dugaan itu.

Kasus lain, Universitas Padjadjaran (Unpad) menonaktifkan sementara seorang pengajar nan diduga terlibat dalam kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus. Pihak Unpad mengatakan korban sudah tidak studi di kampusnya.

"Mengenai kelanjutannya, saya belum ada info update-nya, penelusuran sedang dilakukan," ujar Kepala Humas Unpad, Dandi Supriadi, saat dimintai konfirmasi, Sabtu (18/4/2026).

"Korban sudah tidak studi di Unpad," tambahnya.

(dwr/lir)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News