Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut defisit APBN nan sebelumnya berada di kisaran 2,9 persen diperkirakan bakal turun menjadi sekitar 2,8 persen.
Hal tersebut disampaikan Purbaya dalam pertemuan dengan lembaga pemeringkat dunia Standard & Poor’s (S&P) di Washington DC, Amerika Serikat, pada Selasa (14/4).
“(Defisit) 2,9 (persen) pada waktu kita lakukan awal, tapi di LKPP kelak kira-kira bakal turun ke 2,8 persen. Saya sebutkan perihal itu ke mereka, ada indikasi turun ke 2,8 persen. Jadi mereka banget positif dengan hasil seperti itu,” kata Purbaya usai pertemuannya dengan S&P di Washington DC, dikutip pada Kamis (16/4).
Purbaya menuturkan S&P juga mencermati perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya pada triwulan keempat nan dinilai lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya.
“Dan parameter awal sekarang sepertinya mereka juga memandang semua aktivitas ekonomi sudah membaik,” ujar Purbaya.
Menurutnya, perihal tersebut menjadi salah satu argumen S&P memberikan ranking angsuran Indonesia tetap berada pada level investment grade, ialah BBB dengan outlook stabil. Meski begitu, lembaga tersebut memberikan catatan mengenai rasio pembayaran kembang terhadap pendapatan nan berada di atas 15 persen, sehingga perlu terus dipantau.
“Saya bilang kita bakal monitor terus dan memastikan keadaan ekonomi tetap baik dan fiskal kita bakal jaga, tidak memburuk revisi pembayaran tambahan,” ungkap Purbaya.
Purbaya mengungkapkan rencananya pihak S&P bakal ke Indonesia pada Juni 2026 untuk menilai kondisi fiskal perekonomian secara keseluruhan.
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·