PLTS Terpasang di RI Masih Secuil, Ternyata Ini Alasannya

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia hingga sekarang tetap relatif rendah, sekalipun potensinya sangat besar.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyan mengungkapkan bahwa rendahnya pemanfaatan PLTS tidak hanya dipengaruhi aspek efisiensi, tetapi juga hambatan keekonomian dan teknis.

"Nah sekarang, kenapa sih pemanfaatan kita kok rendah ya? Kita tidak bicara mengenai efisiensi nan mungkin di sekitar 20%, jika di negara subtropis lebih dari itu. Tetapi intinya adalah ini ada daya lokal nan bisa kita optimalkan. PR-nya sekarang adalah soal keekonomian. Kalau kita bicara keekonomian maka, ada dua ya, keekonomian sama teknis," kata Sripeni di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Menurut dia, pengembangan industri PLTS memerlukan skala ekonomi (economies of scale) agar biaya dapat lebih kompetitif sekaligus memberikan akibat ekonomi nasional nan signifikan.

Ia membeberkan, saat ini Indonesia mempunyai sekitar 25 pabrikan dengan kapabilitas produksi panel surya mencapai sekitar 5,8 GW per tahun. Dengan kapabilitas tersebut, andaikan hanya mengandalkan produksi dalam negeri untuk mencapai sasaran besar seperti 100 GW, dibutuhkan waktu hingga sekitar 20 tahun.

Bahkan, jika kapabilitas produksi menjadi dikisaran 10-11 GW per tahun, waktu nan dibutuhkan tetap sekitar satu dekade. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembagian pasar antara proyek skala mini dan besar.

Selain aspek ekonomi, aspek teknis juga menjadi tantangan utama. Sifat intermiten daya surya menuntut sistem kelistrikan nan elastis dan didukung oleh teknologi penyimpanan daya seperti baterai.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah mengatur tanggungjawab penambahan baterai untuk PLTS. Selain itu, pembangkit berbasis gas seperti PLTGU dan PLTG dinilai bisa merespons perubahan produksi listrik dari PLTS dengan cepat.

"Artinya apa? Dia bisa segera mengikuti perubahan perubahan intermitensi dari PLTS. Nah itu dari sisi sistem. Maka jika begitu nan diperkuat di Jawa dulu dong nan sudah siap dengan sistemnya. PLTA-nya sudah ada, PLTGU dan PLTG nan sifatnya gas sudah ada. Jadi secara sistem sudah kuat," ujarnya.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News