Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan Listrik Negara (PLN) mempunyai strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (bbm) dalam memproduksi tenaga listrik. Targetnya, penggunaan BBM bakal menghilang di tahun 2028.
Pengurangan penggunaan BBM dalam pembangkit listrik dinilai penting, apalagi saat terjadi gejolak akibat perang di timur tengah nan membikin nilai minyak mentah bumi mencapai US$100-an per barel dan juga jumlah pasokan minyak mentah dunia.
Direktur Manajemen Risiko PLN Adi Lumakso mengatakan PLN tengah berupaya beralih bentuk dengan mengurangi ketergantungan terhadap BBM.
"Salah satunya adalah dengan, kita punya beragam program misalnya di tahun 2028, kita bakal mengurangi alias menghilangkan BBM. Maksudnya program Zero BBM, sampai tahun 2028. nan program ini adalah bertahap," katanya di Menara Patra Jasa, Jakarta pada Kamis (23/4/2026).
Adi mengatakan bahwa langkah untuk bisa mencapai zero bbm itu dengan langkah penggunaan baterai nan dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga SUrya (PLTS).
"PLTS itu bakal beroperasi, pada saat ada daya sinar matahari, kita convert menjadi energi, dan kita simpan dalam corak baterai. Dan baterai inilah nan kelak bakal kita alokasikan untuk menggantikan pembangkit-pembangkit berbasis bbm," terang Adi.
Ujung-ujungnya, imbuh Adi, jika rencana ini melangkah maka bisa saja Indonesia bakal swasembada daya karena mempunyai biaya lebih murah hingga mencapai visi zero bbm.
Akibat lonjakan nilai minyak mentah, kata Adi membikin PLN lebih waspada lantaran ada sebagian pembangkit tenaga listrik menggunakan minyak mendtah dan impor.
"Seperti saya sendiri, monitor kami itu harian, apalagi jam-jaman. Karena memang, meskipun kita punya pembangkit nan lainnya, tapi ada sebagian besar alias sebagian kecil, itu tetap menggunakan BBM nan rata-rata import, dan itu mahal," tutupnya.
(pgr/pgr)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·