Jakarta -
Asosiasi Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (AMDATARA) menyampaikan nilai bahan baku bungkusan plastik nan berbasis minyak bumi dilaporkan meroket hingga 100%. Kenaikan ini dipicu oleh gejolak nilai daya imbas perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran sejak akhir Februari 2026.
Ketua Umum AMDATARA, Karyanto Wibowo memperkirakan kondisi ini tidak hanya menakut-nakuti kelangsungan ribuan upaya dan puluhan ribu lapangan kerja, namun juga berpotensi mengganggu akses masyarakat terhadap air minum kondusif bagi kesehatan publik.
"Kami menyampaikan keprihatinan serius atas tekanan nan semakin berat terhadap industri air minum dalam bungkusan (AMDK) akibat lonjakan nilai bahan baku kemasan, terutama plastik nan berbasis minyak bumi," ujar Karyanto dalam keterangan tertulis, Rabu (8/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menuturkan ketegangan geopolitik di area Timur Tengah telah menyebabkan nilai minyak mentah bumi melonjak tajam dari sekitar US$ 67 per barel menjadi US$ 98 per barel pada pertengahan Maret 2026. Sementara itu, lanjutnya, nilai gas alam referensi di Asia dan Eropa melesat lebih dari 60% dalam periode nan sama.
"Karena lebih dari 99% plastik dunia diproduksi dari bahan bakar fosil (minyak bumi dan gas alam), kenaikan nilai daya ini langsung berakibat pada biaya produksi dan bahan baku plastik," terangnya.
Pihaknya memperkirakan lonjakan nilai bahan baku hingga 100% ini berpotensi mendorong kenaikan nilai bungkusan jadi sekitar 25-50%, tergantung pada jenis material, volume produksi, dan skala upaya masing-masing perusahaan. Jika kondisi ini berlanjut, Karyanto mengatakan nilai jual produk AMDK di pasar berisiko mengalami kenaikan, terutama bagi produsen mini dan menengah nan mempunyai stok terbatas dan likuiditas nan lebih rendah.
"Hal ini tidak hanya menakut-nakuti kelangsungan ribuan upaya dan puluhan ribu lapangan kerja, tetapi juga berpotensi mengganggu akses masyarakat terhadap air minum kondusif nan selama ini menjadi kontribusi krusial industri AMDK bagi kesehatan publik," tambah ia.
Dia mengungkapkan berasas laporan langsung dari personil asosiasi di beragam daerah, kenaikan nilai bahan baku bungkusan pada beberapa jenis material telah mencapai hingga 100% dalam waktu relatif singkat. Menurut Karyanto, kenaikan nilai bahan baku bungkusan nan mencapai dua kali lipat ini tidak lagi bisa dianggap sebagai perubahan biasa.
"Ini merupakan tekanan struktural nan secara langsung memukul daya tahan industri, terutama di saat pelaku upaya tetap berupaya menjaga keterjangkauan nilai produk bagi masyarakat," jelasnya.
Ia membeberkan saat ini terdapat 707 pabrik dengan kapabilitas produksi terpasang mencapai 47 miliar liter per tahun dan menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung. Industri AMDK ini juga mendukung jutaan pekerja di sepanjang rantai pasok pengedaran serta berkontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia sebagai bagian dari subsektor makanan dan minuman.
Ia menilai memainkan peran strategis dalam kesehatan masyarakat dengan menyediakan akses air minum nan aman, higienis, dan berkualitas, sehingga membantu mengurangi akibat penyakit nan ditularkan melalui air tidak bersih.
Oleh lantaran itu, lanjutnya, pihaknya berambisi pemerintah bersedia datang secara aktif sebagai penyangga (shock absorber) bagi industri strategis seperti AMDK melalui langkah-langkah konkret. Ia pun meminta agar pemerintah memberikan relaksasi kebijakan sebesar 20-30% pada komponen biaya mengenai bahan baku dan energi, seperti penurunan sementara PPN bungkusan dari 11% menjadi 8%, relaksasi Bea Masuk Anti Dumping/BMAD, serta stimulus pajak penghasilan untuk UMKM di sektor AMDK.
"Insentif nan kami minta ini bukanlah privilese, melainkan penopang agar industri tetap dapat berjalan, tenaga kerja terlindungi, pasokan produk ke masyarakat tetap terjaga, dan stabilitas ekonomi nasional tidak terganggu," tambahnya.
(rea/ara)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·