Paradoks Produktivitas: Mengapa Karyawan Terbaik Justru Paling Cepat Resign?

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Ilustrasi wanita resign. Foto: Lee Charlie/Shutterstock

Di banyak perusahaan, sering kali kita menemui pemandangan nan lazim namun ironis: tenaga kerja nan paling rajin, paling sigap menyelesaikan tugas, dan selalu antusias, justru menjadi orang pertama nan mengusulkan surat pengunduran diri (resign). Fenomena ini tentu mengernyitkan dahi para pimpinan. Mengapa mereka nan terlihat sangat mencintai pekerjaannya dan mempunyai performa gemilang justru memilih pergi?

Jawabannya sering kali bukan soal tawaran penghasilan nan lebih tinggi di tempat lain, melainkan lantaran sebuah "hukuman" terselubung berjulukan beban kerja berlebih. Sebuah tulisan di Good News From Indonesia (2026) menangkap anomali ini: pemimpin condong menumpuk tugas tambahan kepada mereka nan dianggap paling bisa diandalkan. Inilah awal dari paradoks produktivitas, di mana prestasi justru menjadi jerat nan mencekik pelakunya sendiri.

Mitos "Cinta Kerja" sebagai Penawar Lelah

Akar masalah dari kejadian ini dibedah secara mendalam oleh Sangah Bae, Profesor Manajemen di Northeastern University, Amerika Serikat. Dalam risetnya nan dimuat di jurnal Organizational Science, Bae melibatkan 4.300 peserta untuk memandang gimana pemimpin mendistribusikan tugas. Hasilnya mengejutkan: manajer lebih suka memberikan tugas di luar penjelasan pekerjaan kepada tenaga kerja nan terlihat sangat menikmati pekerjaannya.

Bae menemukan adanya bias kognitif nan dia sebut sebagai motive oversimplification. Para pemimpin condong menyederhanakan motivasi bawahannya. "(Para atasan) mungkin beranggapan bahwa tenaga kerja nan menikmati pekerjaan utama mereka juga bakal menikmati tugas-tugas tambahan, dan bahwa rasa senang tersebut bakal melindungi mereka dari kelelahan kerja," tulis tim peneliti Bae, (Phys.org, 23/3/2026).

Asumsi ini adalah kesalahan fatal. Atasan mengira antusiasme adalah baterai kekal nan tidak bisa habis. Padahal, cinta pada pekerjaan bukanlah perisai terhadap rasa lelah. Ketika "si rajin" terus-menerus digempur tugas ekstra tanpa kompensasi nan setara, rasa cinta itu perlahan berubah menjadi kebencian laten terhadap organisasi.

Jebakan Bias Reliabilitas

Mengapa pemimpin melakukan ini? Secara psikologis, ini berangkaian dengan reliability bias. Manajer nan dikejar sasaran condong mencari "jalan pintas" dengan memberikan tugas susah kepada orang nan sudah terbukti kompeten. Logikanya sederhana: daripada mengambil akibat memberikan tugas kepada tenaga kerja nan lambat alias kurang cakap, lebih kondusif memberikannya kepada si "Andalan".

Namun, praktik ini menciptakan ketidakadilan organisasi nan nyata. Studi perilaku organisasi oleh Daneshmandi et al. (2023) mengingatkan bahwa tekanan kerja berlebih atau technostress dapat merusak penemuan individu. Sementara itu, riset Sabuhari et al. (2025) menegaskan bahwa persepsi keadilan beban kerja adalah kunci dari keterlibatan pegawai (work engagement).

Karyawan terbaik biasanya mempunyai standar keadilan nan tinggi. Saat mereka sadar bahwa kompetensi mereka hanya dibalas dengan beban kerja nan lebih berat dibandingkan rekan sejawatnya, mereka bakal merasa dikhianati secara profesional. Inilah argumen mengapa high performer menjadi golongan nan paling rentan untuk resign. Mereka pergi bukan lantaran tidak loyal, melainkan lantaran merasa sistem tidak lagi menghargai kualitas, melainkan mengeksploitasi kapasitas.

Memutus Rantai Eksploitasi

Agar talenta terbaik tidak terus melakukan "bedol desa", organisasi kudu mengubah pendekatan manajerialnya melalui tiga langkah strategis nan naratif dan terukur. Pertama, manajemen kudu berbasis data, bukan sekadar intuisi. Penggunaan workload management system menjadi krusial untuk memantau kapabilitas kerja secara objektif. Tugas tidak boleh diberikan hanya lantaran seseorang terlihat "siap" alias "bahagia", tetapi kudu berasas kesiapan ruang kerja nan terukur secara setara di seluruh tim.

Kedua, perlu ada redefinisi sistem penghargaan. Jika perusahaan memberikan tanggung jawab ekstra kepada seseorang lantaran keunggulannya, maka penghargaan nan diberikan—baik berupa insentif, fasilitas, maupun percepatan karier—harus sebanding. Tanpa apresiasi nyata, tugas tambahan hanyalah corak pemerasan ahli nan dibungkus pujian hampa.

Ketiga, transformasi kepemimpinan melalui servant leadership. Manajer kudu dilatih untuk mempunyai kepintaran emosional dalam mengenali pemisah antara antusiasme dan kelelahan. Pemimpin nan dahsyat bukan mereka nan paling banyak menumpuk tugas, melainkan mereka nan bisa memastikan daya timnya terdistribusi secara berkepanjangan dan sehat.

Menata Ulang Makna “Rajin”

Keberlanjutan sebuah organisasi tidak ditentukan oleh seberapa keras satu-dua orang "super" diperas energinya, melainkan oleh seberapa bijak sistem mengelola daya kolektif. Rajin semestinya menjadi tiket menuju pertumbuhan, bukan jerat nan mengantar tenaga kerja ke pintu keluar.

Sudah saatnya perusahaan berakhir "menghukum" mereka nan berprestasi. Jika organisasi terus kandas membedakan antara produktivitas nan sehat dan eksploitasi, jangan kaget jika talenta terbaik bakal terus pergi. Mereka bakal mencari tempat di mana dedikasi dihargai dengan keadilan, bukan sekadar tumpukan kertas di meja kerja. Karena pada akhirnya, keberlanjutan organisasi berjuntai pada langkah kita memanusiakan manusia di dalamnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan