Pakar ungkap strategi jaga pertumbuhan EV tanpa berjuntai insentif.
, JAKARTA, – Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai bahwa pertumbuhan kendaraan listrik (EV) di Indonesia tetap dapat terjaga meskipun insentif pemerintah berpotensi berubah. Hal ini bisa dicapai dengan strategi nan tepat dalam aspek harga, infrastruktur, dan ekosistem.
Yannes menyebut bahwa terdapat lima aspek nan bisa menggantikan peran insentif fiskal untuk menarik minat konsumen kendaraan listrik. Pertama, kelebihan total cost of ownership (TCO) kudu lebih ekonomis dibanding kendaraan berbahan bakar minyak (BBM).
Ia menambahkan bahwa kesiapan prasarana pengisian daya nan memadai, termasuk stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), di beragam letak strategis sangat krusial dalam membentuk ekosistem kendaraan listrik.
Faktor ketiga adalah stabilitas nilai jual kembali kendaraan nan perlu didukung agunan baterai jangka panjang. Keempat, skema pembiayaan inovatif seperti leasing unik EV alias battery-as-a-service dapat menjadi solusi.
Kelima, diferensiasi produk melalui teknologi dan fitur nan tidak dimiliki kendaraan konvensional dapat menarik konsumen. Yannes menekankan bahwa nilai Battery Electric Vehicle (BEV) kudu berada di kisaran Rp150 juta–200 juta agar dapat menjangkau kelas menengah nan sesungguhnya.
Selain itu, dia menilai kenaikan nilai BBM dapat menjadi pendorong alami bagi mengambil EV. “Setiap kenaikan Pertalite alias Pertamax Rp1.000/liter berpotensi mempercepat titik lunas BEV satu sampai dua tahun,” ujarnya.
Namun demikian, kesiapan prasarana tetap menjadi aspek krusial. Yannes mencatat bahwa rasio SPKLU di Indonesia tetap tertinggal dibanding standar internasional. “Tanpa prasarana nan matang, range anxiety tetap jadi halangan utama mengambil BEV ini,” katanya.
Untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan, Yannes mendorong pengembangan kendaraan listrik dengan nilai terjangkau melalui peningkatan kandungan lokal serta produksi massal di dalam negeri. Dengan langkah tersebut, pertumbuhan EV di Indonesia diyakini dapat bersambung secara lebih sehat dan berkepanjangan meskipun ketergantungan pada insentif berkurang.
“Strateginya paling baik adalah segera mendorong EV segmen Rp150 juta–200 jutaan via TKDN tinggi dan skala produksi massal di dalam negeri,” pungkasnya.
Konten ini diolah dengan support AI.
sumber : antara
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·